SHARE

Biogas-Biru-Bali

Lebih dari 70.000 orang Indonesia telah mendapatkan manfaat dari 14.173 reaktor BIRU (Biogas Rumah) yang terbangun sampai dengan 3 Februari 2015. Teknologi berbasis rumah tangga dengan cara mengolah kotoran ternak, seperti sapi, babi dan unggas ini merupakan program Hivos yang dikelola dalam kerangka kemitraan dengan Yayasan Rumah Energi (YRE) dan SNV, serta menjadi salah satu program Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia yang melakukan koordinasi dan mendorong pemerintah daerah yang potensial dalam mengembangkan biogas untuk berpartisipasi aktif dalam mengembangkan program BIRU di wilayah masing-masing.

Program yang diinisiasi pada 2009 oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda ini, menggandeng lembaga-lembaga lokal sebagai mitra untuk membangun dan mempromosikan bentuk energi terbarukan yang modern dan lestari bagi masyarakat Indonesia.

Dengan dukungan dari Kedutaan Besar Norwegia dan program EnDev (Energizing Development), saat ini program BIRU bekerja di 9 provinsi di Indonesia: Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sumba), dan menargetkan perluasan wilayah kerja minimal empat provinsi pada 2015 ini.

Keluarga-keluarga peternak Indonesia yang telah menggunakan BIRU kini tak lagi perlu mengkhawatirkan naiknya harga bahan bakar konvensional karena kebutuhan gas telah terpenuhi, langsung dari kandang ternak mereka sendiri. Seorang pengguna BIRU dari Desa Lembu, Bancak, Semarang misalnya, mengatakan ia kini tak pernah lagi membeli elpiji untuk kebutuhan memasak harian. “Sekarang kami punya sumber api sendiri untuk memasak dan lampu,” kata Sriyatun (35 tahun). Di desanya terdapat 96 reaktor biogas yang mengantarkan desa tersebut meraih gelar Desa Mandiri Energi tingkat Jawa Tengah pada 2014 lalu.

Selain manfaat tersebut, dari hasil survey pada 2013, para pengguna BIRU mengatakan lingkungan rumah mereka menjadi lebih sehat: asap di dapur lebih sedikit (79%), dapur lebih bersih (72%), kandang ternak pun lebih bersih (69%). “Bau sudah berkurang hingga 75-80%. Tidak ada tetangga yang protes lagi. Kami puas dengan Biogas Rumah,” kata Abas (54 tahun) peternak ayam potong dari Dusun Sodo, Sodo, Pakel, Tulungagung, Jawa Timur, yang memulai usaha ternak ayam sejak 1999 dengan populasi 1.000-2.000 ekor. Sebelum menggunakan biogas BIRU, usahanya sempat diprotes karena bau dari peternakan mengganggu masyarakat di sekitarnya.
Biogas memiliki manfaat lainnya.

Laporan awal Soil and More International dalam studi kelayakan peran bio-slurry (ampas biogas) dalam mendukung Climate Smart Agriculture di Indonesia mengindikasikan potensi pengurangan karbon antara 2-7 ton CO2e/ha/tahun jika petani menggunakan bio-slurry. Bio-slurry, baik cair maupun padat, adalah pupuk organik yang sangat baik untuk menyuburkan lahan dan meningkatkan produksi tanaman budi daya. Beberapa pengguna BIRU bahkan menjadikan bio-slurry sebagai bahan campuran untuk pupuk vermikompos, pupuk bokashi, media budi daya jamur, pupuk kolam serta pakan ikan dan belut, dengan hasil yang memuaskan.

Program BIRU pun telah resmi terdaftar dalam skema karbon kredit Gold Standard sejak 2013 dan mendapat pengakuan bahwa setiap reaktor yang terbangun diperkirakan mampu mengurangi emisi sekitar 3 ton CO2e per tahun.

Bersama lebih dari 50 lembaga mitra serta lebih dari 1.200 pekerja pembangun dan pengawas terlatih, program BIRU telah meningkatkan potensi sektor biogas untuk dikembangkan dan mendatangkan manfaat berlimpah bagi peternak, petani dan masyarakat Indonesia. Hivos, YRE, SNV bersama dengan DJEBTKE berkomitmen akan terus mempromosikan energi terbarukan untuk mewujudkan energi bersih yang berkualitas tinggi dan dapat dipakai dengan mudah oleh masyarakat Indonesia.

Apa Komentar Kamu?