SHARE

Satunegeri.com — PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin) bakal menggarap tiga proyek infrastruktur telekomunikasi internasional senilai total US$ 1 miliar.

Dari nilai tersebut, Telkom akan menanamkan investasi sekitar US$ 400 juta sampai tahun 2016, atau 40% dari total proyek.

Ketiga proyek infrastruktur jaringan telekomunikasi tersebut adalah mega proyek sistem kabel laut luar negeri dengan jalur South East Asia-Middle East-Western Europe 5 (SEA-ME-WE5), sistem kabel laut jalur South East Asia- United States (SEA-US), dan jaringan Indonesia Global Gateway (IGG).

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, perseroan akan mengandalkan pedanaan kas internal dan eksternal sebagai sumber pendanaan tiga proyek tersebut. Perseroan belum menentukan porsi dari eksternal.

“Namun, Kalau dari internal kami masih punya kas yang kuat,” jelas dia saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (28/8).

Setiap tiga proyek Infrastuktur memiliki bentuk model pengembangan tersendiri. Pada Maret 2014, Telin menggandeng 12 perusahaan telekomunikasi di Asia dan 2 perusahaan Eropa yang tergabung dalam konsorsium SEA-ME-WE 5. Proyek ini memiliki panjang sekitar 20.000 KM yang terbentang dari Asia Tenggara ke Eropa, Perancis, dan Italia. Mega proyek ini nantinya akan menghubungkan 17 negara yang dilaluinya.

Sementara proyek kedua SEA-US merupakan sistem label laut yang memiliki panjang 15.000 km. Kabel laut tersebut menghubungkan lima area dan teritori yaitu Manado (Indonesia), Davao (Philipines), Piti (Guam), Oahu (Hawaii) dan Los Angeles.

Arief menjelaskan, proyek kedua ini perseroan menggandeng 6perusahaan telekomunikasi global dengan Telin sebagai pemimpin proyek. Ketujuh perusahaan tersebut adalah Globe Telecom, RAM Telecom internasional, Hawaiian Telecom, Teleguam Holdings (GTA), GTI Corporation, dan Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telkom USA).

Arief menjelaskan, investasi jalur infrastruktur SEA-US senilai US$ 250 juta. Dari nilai tersebut, Telkom memiliki porsi 28,5% atau setara US$ 71,25 juta. Jalur tersebut diperkirakan bisa beroperasi pada tahun 2016. Pihaknya memperkirakan, perseroan bisa mengalami balik modal atau break even poin (BEP) dalam waktu lima sampai tujuh tahun ke depan.

Dia menambahkan, pihaknya akan menjajaki dua perusahaan telekomunikasi di dua negara yaitu Australia dan Papua Nugini untuk bergabung dengan konsorsium SEA-US.

“Operator lain biasanya membuat jalur kabel laut dengan rute Utara ke Barat. Kami memilih jalur lain, dengan Indonesia sebagai penghubung. Ini satu-satunya jalur yang menghubungkan jalur kabel laut dari Indonesia ke Amerika Serikat,” jelas dia.

Pada tahun depan, lanjut Arief, Telkom Grup akan memulai proyek ketiga, yaitu jaringan Indonesia Global Gateaway (IGG). Proyek ini dilakukan tanpa konsorsium dengan total nilai US$ 253. Secara teknis, IGG adalah jaringan yang membentang dari Medan sampai Menado. Infrastruktur tersebut menghubungkan jalur SEA ME-WE 5 ke arah barat hingga Eropa dan jalur SEA-US ke arah timur hingga Amerika Serikat.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

five × 4 =