SHARE

Satunegeri.com — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut dibekukannya keanggotaan Indonesia di organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) bisa menyelamatkan dompet Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Bekunya keanggotaan Indonesia juga untuk perbaikan APBN,” ujar Jokowi. Ia melanjutkan, Indonesia memang sempat membekukan keanggotaan pada 2009 dan masuk lagi pada tahun ini dengan tujuan untuk mengetahui informasi naik-turunnya harga dan persediaan minyak dunia.

Namun, karena situasi APBN saat ini sedang sulit, maka keanggotaan OPEC harusnya tidak menjadi masalah.

Sayangnya, ia tak menjawab apakah hal itu berkaitan dengan iuran keanggotaan OPEC yang harus dibayarkan setiap tahun atau karena potensi penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas tahun depan jika Indonesia jadi memangkas produksinya.

“Kalau memang kita harus keluar lagi, saya kira tidak ada masalah,” ujarnya.

Sementara Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, dibekukannya keanggotaan OPEC berdampak baik bagi Indonesia. Jika Indonesia diminta OPEC menurunkan produksi 5 persen, atau 37 ribu barel, hal itu akan sangat mempengaruhi PNBP migas.

Sebagai informasi, pada tahun depan PNBP migas dipatok di angka Rp63,7 triliun, atau turun 7,25 persen dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Peneyesuaian (APBNP) 2016 sebesar Rp68,68 triliun.

“Bagus kalau dibekukan, karena kalau kita cut 37 ribu barel tidak bagus buat penerimaan kita. Sementara biar saja dulu begitu. Pernah dulu Indonesia freeze keanggotaan, jadi tidak apa-apa,” jelasnya.

Sebagai informasi, Indonesia bergabung dengan OPEC pada 1962 silam. Seiring produksi minyak yang menurun, Indonesia sempat membekukan keanggotaanya pada tahun 2009 silam karena sudah tidak mampu lagi mengekspor minyak.

Namun, Indonesia kembali bergabung ke dalam OPEC pada 1 Januari 2016 lalu. Sehingga, ini merupakan kali kedua Indonesia membekukan keanggotaannya di kumpulan negara-negara eksportir minyak tersebut.

Per Oktober tahun ini, realisasi produksi minyak Indonesia mencapai 834.203 barel per hari, atau hanya 2,5 persen dari total produksi negara OPEC sebesar 33,8 juta barel per hari.

Apa Komentar Kamu?