SHARE

image-satunegeri

satunegeri.com – Swedia yang merupakan salah satu negara yang menjadi ”pusat” teknologi komunikasi nirkabel di Eropa, telah mencatatkan nama Dr. Ir. Basuki Endah Priyanto, MEng, sebagai orang yang memegang belasan hal petan desain alogaritma.

Belasan paten dicatatkan atas nama Basuki, selaku staf engineer, beserta tim melalui perusahaan  Ericsson AB (2008-2012) dan Huawei Technologies Sweden AB (2012-kini). Di Huawei, dia jadi spesialis senior yang memimpin tim kecil peneliti multinasional yang bertugas mendesain algoritma agar telepon pintar punya performa tinggi, tetapi mampu menggunakan energi seefisien mungkin.

Salah satu contoh paten tersebut adalah algoritma dalam ”heterogeneous networks” untuk teknologi telepon genggam generasi keempat (4G). Dia mendesain algoritma agar telepon pintar mampu memproses sinyal yang diterima, kendati mengalami banyak interferensi sinyal pengganggu sehingga tetap bisa menerima data dengan kecepatan tinggi.

Tantangan dalam mengembangkan teknologi 4G tersebut, menurut pria lulusan Teknik Elektro (Cum Laude) ITB tahun 1998 ini sangat banyak, karena di satu sisi terdapat besarnya permintaan data berkecepatan tinggi, sementara di sisi lain sangat banyak interferensi akibat sel-sel base-station yang saling bertumpukan.

Usai menjadi Research Associate, Nanyang Technological University, Singapura pada tahun 2002-2005, Basuki mulai berkiprah di Eropa. Ia bekerja sebagai External Researcher Nokia Siemens Networks ApS Denmark di tahun 2005 dan mendapat beasiswa sebagai mahasiswa program doktoral bidang komunikasi nirkabel di Aalborg Universitet, Denmark tahun 2005-2008 yang penelitiannya didukung perusahaan tempat ia bekerja.

Setelah lulus tahun 2008, Basuki harus memilih antara mengabdi di dunia akademik dan terjun ke dunia industri. Aalborg Universitet menawarinya pascadoktoral, tetapi Basuki pun berpeluang bekerja di dua perusahaan besar, Nokia di Finlandia atau Ericsson di Lund, Swedia.

Akhirnya ia memilih dunia industri karena dirasakannya penuh dinamika dan memberikan peluang lebih untuk berinteraksi dengan teknologi tepat guna. Pilihannya jatuh pada Ericsson AB, Swedia. Keputusannya itu berdasarkan pertimbangan riset 4G di Ericsson AB ataupun di Swedia umumnya terbilang maju.

Namun ia mengaku ada hal yang kurang menyenangkan berkiprah di Eropa. ”Saya enggak enak karena bekerja di luar negeri,” katanya. Ini membuatnya tinggal jauh dari keluarga, terutama orangtua.

Oleh karena itu, salah satu tantangan dia adalah bagaimana bisa berkiprah di Indonesia meski hal itu relatif masih sulit karena Indonesia sekadar jadi konsumen. Ia menilai belum banyak upaya pemerintah untuk membuat Indonesia jadi lebih mandiri di sektor telekomunikasi.

Basuki menjajaki kemungkinan membangun pusat desain dan penelitian berskala internasional di Indonesia. Ia mengajak anggota Diaspora Indonesia lain yang berpotensi dan punya keahlian serupa untuk berkolaborasi. Ia berharap hal ini bisa terwujud.

”Indonesia itu pangsa pasarnya besar, tetapi sejauh ini hanya sebagai pengguna. Dari sisi teknologi, kita mengikuti apa yang sudah dikembangkan di luar negeri. Sebenarnya banyak orang Indonesia yang berpotensi, tetapi belum menemukan wadah,” katanya

Kendati jauh dari Tanah Air, Basuki berusaha berkontribusi untuk Indonesia. Misalnya, saat pulang, ia menyempatkan diri memberikan kuliah umum di beberapa universitas, seperti Institut Teknologi Bandung dan Telkom University. Ia ingin membuka wawasan mahasiswa agar termotivasi untuk belajar dan bersekolah lebih tinggi, sekaligus percaya diri.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

2 × one =