SHARE

image-satunegeri

Satunegeri.com — Sektor batubara dan perkebunan terkena dampak negatif harga komoditas. Dampak negatif penurunan harga komoditas akan semakin terlihat pada kinerja keuangan emiten di beberapa sektor utama Bursa Efek Indonesia (BEI). 

 
 
Secara ringkas, dampak negatif pelemahan harga komoditas bakal membuat pertumbuhan laba usaha (operating profit) dan laba bersih (net profit) emiten di tiga sektor tersebut negatif.
Sektor perkebunan diyakini bakal menjadi sektor dengan penurunan kinerja paling dahsyat. Per kuartal III 2013, laba usaha rata-rata emiten di sektor ini bakal amblas 43,8% year-on-year (yoy)
 
Tim riset Bahana Securities menilai, selain sektor batubara dan perkebunan, sektor otomotif juga terkena dampak harga komoditas. Sektor-sektor tersebut bakal terpapar  kinerja keuangannya hingga kuartal III 2013.
 
Padahal, di kuartal III 2012, emiten sektor ini masih bisa mendongkrak laba usaha rata-rata 
sebesar 25,2%.Laba usaha yang melempem tentu berimbas pada sisi laba bersih emiten. 
 
Tim Bahana menghitung, laba bersih rata-rata emiten sektor perkebunan bisa terkoreksi hingga 45,5% di akhir September 2013. Padahal, di periode sama tahun lalu, emiten perkebunan masih bisa meraih pertumbuhan laba bersih rata-rata 16,9%.
 
Sementara itu, Kepala Riset Bahana Securities, Harry Su menjelaskan, hantaman yang menerpa sektor perkebunan berlapis. Emiten perkebunan diadang koreksi harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) lantaran ada ketimpangan jumlah pasokan dan permintaan crude palm oil (CPO).
 
"Biaya produksi emiten perkebunan juga naik, misal, karena kenaikan upah tenaga kerja," kata Harry, belum lama ini. Secara spesifik, lesu bisnis perkebunan tercermin dari laba bersih emiten sektor ini. 
 
Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), semisal, diproyeksikan Bahana akan turun 44,3% (tahunan) di kuartal III 2013 menjadi Rp 930,19 miliar. Laba bersih PT Salim Ivomas Tbk (SIMP) juga bakal anjlok 43,4% menjadi Rp 548,78 miliar di kuartal III 2013.
 
Sektor otomotif juga akan merasakan dampak negatif akibat harga komoditas yang melemah. Laba usaha rata-rata emiten tersebut di kuartal III 2013 ditaksir bakal melorot 18,9%. Jauh lebih besar dari realisasi laba usaha rata-rata emiten otomotif di kuartal III 2012 yang hanya menurun 5,3% secara year on year.
 
Selain harga komoditas, ancaman lain yang mendera emiten otomotif ada penurunan margin. Ini karena persaingan antar perusahaan yang kian sengit, baik untuk segmen sepeda motor atau mobil. "Tingginya inflasi juga bisa menghambat penjualan otomotif karena daya beli konsumen menurun," imbuh Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities.
 
Di sisi lain, hawa segar mulai dirasakan sektor batubara. Sejak pertengahan 2012, emiten sektor tambang batubara paling terengah-engah lantaran melimpahnya pasokan dan anjloknya harga.
 
Tim Bahana menilai, sektor batubara sudah mulai beranjak membaik dari tren koreksi. Hal ini terlihat dari koreksi kinerja keuangan rata-rata emiten batubara di kuartal III 2013 yang diprediksi tidak sebesar dalam sembilan bulan di tahun lalu.
 
Laba usaha rata-rata emiten batubara, diprediksi Tim Bahana, akan terkoreksi 12,5% di akhir September 2013. Ini jauh lebih baik dari laba usaha rata-rata sektor batubara di kuartal III 2012 yang turun 30,6% . Laba bersih tiga emiten besar, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) juga akan lebih baik meski masih dalam tren koreksi.
 
Di kuartal III-2013, laba bersih PTBA diprediksi turun 22,9%, lebih baik dari periode sama 2012 yang terkoreksi 55,2%. Pun, laba bersih ADRO, di kuartal III 2103 diperkirakan turun 25,2%. Ini lebih bagus dari laba bersih ADRO kuartal III 2012 yang jatuh 56,3%.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

nineteen − seven =