SHARE

satunegeri.com–Perdana Menteri Kamboja Samdech Techno Hun Sen, pada sesi diskusi World Economic Forum (WEF) 2015 mengatakan, ketahanan pangan adalah suatu permasalahan. Permasalahan ketahanan pangan bukan hanya masalah Kamboja tapi pada beberapa negara, maka perlu upaya bersama yang juga melibatkan swasta untuk mengembangkan sektor pertanian sambil dibarengi dengan reformasi agraria

“Saya ingin ingatkan, kalau tidak ada minyak kita tidak akan mati, tapi kalau tidak ada makanan kita akan mati,” kata Perdana Menteri Kamboja Samdech Techno Hun Sen pada sesi diskusi WEF 2015 bertajuk ‘Setting Asia’s Agenda for a Food-Secure Future’ di Hotel Shangrila, Jakarta, Selasa (21/4).

Ketahanan pangan menjadi isu krusial bagi seluruh negara di dunia. Di Asia Tenggara, tak terkecuali Indonesia dan Kamboja, ancaman krisis pangan di depan mata menyusul populasi penduduk yang tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang semakin terbatas. Kasus ini, kata Hun Sen, tak hanya terjadi di Kamboja tetapi juga masalah bagi banyak negara.

“Sejak memulai jabatan sebagai Perdana Menteri Kamboja pada 30 tahun lalu, saya telah mengimplementasikan reformasi tanah dan mengupayakan ekspansi atau meningkatkan produksi beras,” tuturnya.

Hun Sen mengklaim berbagai terobosan yang diupayakan pemerintahannya berhasil meningkatkan produksi dan kualitas hasil tani, terutama beras. Beras Kamboja, kata Hun Sen, memiliki kualitas nomor satu di dunia, mengalahkan beras produksi Indonesia dan Hong Kong.

“Karena keterbatasan lahan, kami mengubah dari kultivasi ekstensifikasi menjadi kultivikasi intensifikasi,” tuturnya.

Sebagai informasi, saat ini sekitar 70 persen masyarakat Kamboja bergantung hidup pada sektor pertanian. Selain menyerap cukup banyak tenaga kerja, sektor pertanian juga menyumbang sepertiga PDB Kamboja.

Peter Ter Kulve, Presiden Direktur Unilever untuk kawasan Asia Tenggara dan Australia, menilai dunia tidak punya masalah terhadap produksi makanan. Menurutnya, lebih dari 50 persen makanan yang diproduksi terbuang oleh konsumen di berbagai negara, terutama negara kaya.

“Ada juga yang dibuang karena tidak dimakan, banyak sekali yang terbuang pada saat pengangkutan dan penyimpanan. 25 persen sampai 30 persen dari makanan yang diproduksi terbuang pada proses pengangkutan dan penyimpanan,” tuturnya.

Peter mengatakan prioritas utama yang harus dilakukan untuk menyesaikan krisis pangan adalah dengan melakukan perubahan prilaku konsumen. Konsumen di seluruh dunia, terutama di negara maju, diharapkan bisa lebih bertanggungjawab terhadap makanan yang mereka beli.

“Terlalu banyak orang yang kurang gizi, tapi di sisi lain banyak sekali orang yang membuang makanan begitu banyak,” katanya.

Apa Komentar Kamu?