SHARE

image-satunegeriJakarta, satunegeri.com: Sebanyak 12 kontraktor kontrak kerja sama (KKS) minyak dan gas bumi (migas) memiliki potensi untuk penerapan teknologi lanjutan (enhance oil recovery/EOR)

Kontraktor tersebut adalah, Pertamina EP, Kondur Petroleum, VICO, CNOOC, PHE WMO, Petrochina, Premier Oil, Petro Selat, Total EP Indonesie</span> <span style="font-size: 10pt;">, Medco EP, JOB Pertamina-Medco Tomori, dan JOB Talisman Jambi Merang.

"Keseluruhannya terdapat 32 lapangan yang menjadi kandidat penerapan EOR," kata Kepala Dinas Humas dan Hubungan Kelembagaan, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS), Elan Biantoro, di Jakarta, Minggu (26/6).

Sebanyak 19 lapangan berpotensi menggunakan teknologi chemical, enam lapangan menerapkan teknologi injeksi CO2, tiga lapangan menggunakan teknologi polimer, sisanya menerapkan injeksi uap dan thermal.

Diungkapkan Elan, penerapan ini adalah evaluasi dari workshop “EOR untuk Peningkatan Produksi Minyak Nasional” yang digelar BPMIGAS dengan dukungan utama Medco dan kontraktor KKS, beserta perguruan tinggi dan instansi terkait lainnya, yang pernah digelar di Bandung pada 23 hingga 24 Juni lalu.

Ia bersiteguh bahwa EOR terbukti dapat meningkatkan angka cadangan migas yang dapat diambil (recovery factor). Biasanya recovery faktor hanya sekitar 30 persen. Dengan EOR, hidrokarbon yang bisa diambil meningkat menjadi 60 persen dari cadangan terbukti. Bahkan bisa 70 hingga 85 persen jika menggunakan teknologi terkini.

"Namun, penerapan EOR adalah proyek jangka panjang. Prosesnya memakan waktu setidaknya lima tahun," ujarnya.

Elan mengungkapkan, kontribusi secondary dan tertiary recovery terhadap produksi minyak nasional telah melampaui primary recovery. Rinciannya, distribusi fase produksi primer sebesar 47 persen, sekunder 31 persen, dan tertier/EOR 22 persen. "Jadi, EOR berperan penting dalam peningkatan produksi nasional di masa depan," kata dia.

Sejumlah negara yang telah berhasil menerapkan EOR. Contohnya di lapangan Daqing, di Cina, dengan operator Petrochina. Dengan injeksi polymer, produksi dapat dipertahankan relatif konstan sebesar satu juta barel per hari selama kurang lebih 30 persen. Sebelum polymer, Petrochina melakukan injeksi air dan optimisasi. "Teknologinya terus berkembang. Semakin terkini, semakin tinggi faktor recoverynya," katanya.

BPMIGAS meminta kontraktor agar dalam usulan persetujuan plan of development (POD) juga mencantumkan rencana tahapan phase produksi dari primer hingga EOR.
"Dengan persiapan sejak dini,  hasilnya akan lebih optimal," pungkas Elan.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

4 × 5 =