SHARE

Satunegeri.com — Dewan Energi Nasional merekomendasikan agar pemerintah memberikan subsidi bagi energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya bahan bakar nabati. Pemerintah diingatkan agar tidak melupakan pengembangan energi nonfosil sebagai sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil atau minyak bumi.

DEN menyarankan agar pemerintahan Jokowi dapat menfokuskan program energi pada pengembangan energi terbarukan. Rendahnya harga minyak bumi dikhawatirkan berdampak terhadap makin melemahnya pengembangan energi nonfosil.

Sementara itu, Direktur Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) Lukman Mahfoedz, mengatakan penurunan harga minyak dunia saat ini tidak boleh memudarkan semangat untuk mengembangkan energi nonfosil. Penurunan harga minyak dikhawatirkan membuat Indonesia menjadi semakin bergantung pada energi fosil atau minyak bumi.

”Gas dan panas bumi di Indonesia melimpah dan pemanfaatannya belum optimal. Ini harus dikembangkan. Jangan sampai rendahnya harga minyak dunia semakin membuat kita bergantung pada energi fosil tersebut,” kata Lukman.

Lukman menambahkan, harga minyak dunia sangat mungkin melonjak kembali di waktu mendatang. Oleh karena itu, kata dia, usaha-usaha untuk menemukan cadangan baru, program konversi ke gas dan energi baru terbarukan harus tetap digalakkan. Upaya itu penting dilakukan agar Indonesia semakin tidak bergantung pada energi fosil.

”Indonesia punya 29.000 megawatt energi panas bumi dan baru dimanfaatkan 5 persen. Demikian juga pemanfaatan gas yang cadangannya sebanyak 103 triliun kaki kubik perlu dioptimalkan,” kata Lukman.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, pekan lalu, di Jakarta, pemerintah tetap akan terus menggalakkan program pengembangan energi nonfosil. Dalam waktu dekat, pemerintah akan membagikan 50.000 alat konversi gas untuk nelayan. Program ini untuk mengurangi ketergantungan nelayan terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan beralih ke gas.

”Kami juga sedang menyiapkan pembagian dua juta tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram sebagai bagian dari program konversi minyak tanah ke gas. Pengembangan pengalihan BBM ke gas juga terus dilanjutkan,” ujar Sudirman.

Sudirman menambahkan, pihaknya bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan terus mendorong program konversi penggunaan bahan bakar minyak ke gas. Beberapa stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang ada tetapi tidak beroperasi akan diaktifkan kembali. Saat ini sedang dipetakan kebutuhan, pasokan, dan harga gas untuk angkutan umum.

”SPBG yang ada dan belum aktif harus diaktifkan. Demikian juga mengenai pasokan gasnya harus dipetakan. Kami juga tetap akan membangun SPBG yang pendanaannya dari APBN dan SPBG yang dibangun PT Perusahaan Gas Negara,” kata Sudirman.

Apa Komentar Kamu?