SHARE

Satunegeri.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, enam perusahaan berpotensi untuk mendapatkan kepemilikan dan pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Darajat dan Gunung Salak, yang rencananya akan dilepas Chevron Indonesia Company.

Direktur Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak menjelaskan, ke-enam perusahaan ini terpilih dari proses lelang yang awalnya melibatkan 44 perusahaan dan disaring kembali menjadi 14 perusahaan.

“Ke-enam perusahaan tersebut sekarang dalam tahap mengajukan proposal. Mengajukan proposal kan lama, karena kan ada beberapa konsep seperti tenaga kerja, konsep masa depan, hingga konsep ekonominya,” ujar Yunus di Gedung Kementerian ESDM, Selasa (18/10).

Ia melanjutkan, ke-enam perusahaan ini terdiri dari PT Pertamina (Persero), PT Medco Energi International Tbk, PT PLN (Persero), Mitsui, Marubeni, dan Star Energy. Negosiasi antara peserta lelang dengan Chevron, lanjutnya, akan dilakukan November mendatang.

“Kalau sekarang sih mereka pada tahapan ke-lima, yaitu penerimaan penawaran mengikat (binding bid) dari calon bidder. Keputusan akhirnya mungkin di Januari mendatang,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia tak bisa menyebut kriteria-kriteria penetapan pemenang tender. Yunus menyebut, hal itu seluruhnya kewenangan Chevron.
Namun ia mengatakan, Chevron sangat berniat melepas kepemilikannya di WKP Darajat dan Salak karena ingin fokus di bisnis hulu migas.

“Core business migas mereka kan sekarang lagi rendah, jadi mereka cari cara agar bisa membaik keuangannya. Makanya mereka jual aset di Salak dan Darajat, yang terbilang salah satu paling menguntungkan di dunia. Makanya harganya mahal kan,” jelasnya.

Sebagai informasi, WKP Darajat bisa memasok listrik berkapasitas 270 Megawatt (MW) dan WKP Salak memiliki kapasitas 377 MW yang dipasok ke enam unit pembangkit listrik. Nilai kedua aset itu ditaksir sebesar US$3 miliar.

Apa Komentar Kamu?