SHARE

Satunegeri.com — Selama ini masyarakat Indonesia hanya mengenal sampah dari sisi negatifnya saja. Sampah identik dengan bau busuk yang membuat kita menutup hidung erat-erat. Padahal, sampah juga memiliki sisi positif. Salah satunya sebagai sumber energi, khususnya listrik.

Sampah menjadi alternatif selain bahan bakar minyak dan gas. Hal ini bukan tidak disadari oleh pemerintah. Untuk mengakselerasi pemberdayaan sampah sebagai sumber energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melahirkan sebuah aksi konkret. Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah adalah menerbitkan buku panduan agar masyarakat bisa lebih mudah menerapkan inovasi tersebut.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan, seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk, volume sampah yang diproduksi akan semakin meningkat. Kondisi ini diperparah dengan daya tampung dan usia pakai tempat pembuangan akhir (TPA) yang ada semakin terbatas karena hanya mengandalkan sistem open dumping.

Menurut Rida, kondisi tersebut akan menyebabkan permasalahan lingkungan yang menghasilkan emisi gas metana dan karbondioksida. “Pada sisi lain, sampah mempunyai potensi energi biomassa yang dapat dikonversi menjadi energi lain, salah satunya menjadi energi listrik,” ujar Rida di Jakarta, Selasa (3/5).

Berdasarkan survei Kementerian ESDM yang dilakukan pada 2012 dan 2013, potensi sampah pada TPA kota besar di Indonesia dapat membangkitkan listrik mencapai 2 GW. Sedangkan, potensi yang sudah termanfaatkan baru mencapai kapasitas terpasang 17,6 MW (0,9 persen dari total potensi).

Rida menilai, dengan masih banyaknya potensi sampah yang belum termanfaatkan, merupakan peluang besar bagi investor untuk dikembangkan menjadi energi listrik. Pemerintah telah menjalankan kebijakan feed in tariff bagi pembangkit listrik tenaga sampah kota melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 44 Tahun 2015 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dari Pembangkit Listrik Berbasis Sampah Kota yang telah ditetapkan pada tanggal 31 Desember 2015 sebagai perubahan dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2013.

“Pada peraturan yang baru tersebut, terdapat perubahan besaran harga pembelian tenaga listrik (feed in tariff) yang lebih kompetitif serta menggunakan satuan mata uang dolar Amerika Serikat. Sehingga, dapat mengantisipasi fluktuasi perekonomian dan menciptakan kondisi iklim investasi yang lebih stabil,” kata Rida menjelaskan.

Selain itu, lanjut Rida, dilakukan pula penyederhanaan alur perizinan sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat calon investor untuk berpartisipasi dalam mengembangkan sampah menjadi listrik di Indonesia. Beberapa waktu lalu, Kamar Dagang dan Industri menginginkan kebijakan yang lebih inovatif dalam mengatasi permasalahan energi, terutama karena banyaknya sumber energi terbarukan yang ada di republik ini.

“Banyak akses terhadap energi masih terbatas, listrik juga masih minim sehingga memang diperlukan inovasi-inovasi bagaimana mengatasi masalah energi kita,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang BUMN Adi Satria Sulisto seperti dilansir Antara.

Hal itu, ujar Adi, karena terbatasnya pasokan energi di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Ini seharusnya menjadi perhatian utama dari semua kalangan untuk berusaha menciptakan inovasi baru dari sumber-sumber energi alternatif yang ada di Indonesia.

Menurut Adi, ada beragam sumber energi alternatif yang melimpah di Indonesia, seperti tenaga air, biogas, angin, panas bumi, dan lain-lain.

Sumber: Republika Online

Apa Komentar Kamu?