SHARE

image-satunegeriSatuNegeri.com – Di sektor perkebunan, perusahaan (BUMN) asing di sektor sawit, terutama Malaysia dan Singapore dan perusahaan swasta/konglomerat semakin luas menguasai lahan perkebunan di Indonesia. Sementara BUMN RI selah-olah jalan ditempat tanpa pertumbuhan yang signifikan. Tercatat pada tahun 2011, perusahaan asing dan konglomerat menguasai sekitar 60% lahan. Perkebunan rakyat/swasta kecil menguasai sekitar 32%. Sedang BUMN hanya menguasai sekitar 8%.

Rencana pembentukan holding yang telah dicanangkan sejak 2006 dan ditargetkan selesai 2010, lalu mundur ke 2011, masih belum juga teralisasi karena berbagai hambatan. Kementrian BUMN menyatakan 15 BUMN perkebunan (PTPN I-XIV dan RNI) sudah siap menjadi holding. Namun Kemenkeu menyatakan memerlukan kajian lebih lanjut. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa penguasaan negara atas pemanfaatan SDA di sektor perkebunan semakin kecil.

IRESS sangat yakin bahwa kondisi di atas disebabkan oleh rendahnya kesungguhan dan komitmen pemerintah di satu sisi dan kuatnya pengaruh asing dan konglomerat dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan. Peran negara demikian lemah atau seakan  hilang jika berhadapan dengan perusahaan multinasional dan konglomerat, sehingga kasus seperti terjadi di Mesuji merupakan hal yang lumrah terjadi. Ke depan, prospek industri perkebunan Indonesia tampaknya akan semakin didominasi asing dan konglomerat, sementara perusahaan negara sendiri, sebagaimana di sektor migas dan minerba, akan tetap kerdil tanpa peran.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

three + fifteen =