SHARE

Oleh: Pipit Siti Fathonah, Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru

BARU-baru ini tidak sedikit masyarakat dunia yang merayakan hari valentine, yang menurut mereka sebagai hari kasih sayang. Termasuk Indonesia, yang mayoritas penduduk Muslim pun tak pernah melewatkan ikut merayakan hari kasih sayang tersebut.

Terutama di kalangan kaum muda perayaan yang demikian tak ubahnya seperti perayaan wajib yang harus mereka lakukan setiap tahunnya. Bahkan, hal itu pula di fasilitasi oleh toko-toko yang menjual berbagai pernak pernik yang berkaitan dengan perayaan hari kasih sayang tersebut.

Saat seharusnya para remaja itu disibukkan dengan studi dan mengejar cita-cita mereka, tapi faham-faham budaya asing sudah mempengaruhi jiwa-jiwa mereka, budaya kaum kafir itu sudah seolah mengalir dalam darah mereka, merasuki jiwa-jiwa mereka yang kosong dari faham-faham agama islam.

Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, dilansir pada perayaan hari kasih sayang beberapa hari yang lalu di kota Surabaya terjaring sekitar 339 pasang remaja diluar nikah melakukan check in di hotel-hotel short time. (www.bringislam.web.id 16/02/2015)

Razia ini dilakukan atas perintah Bu Tri Rismaharini sebagai walikota Surabaya yang sangat prihatin akan pergaulan muda mudi masa kini, bahkan hal serupa juga dilakukan beberapa pemerintah kota lainnya.

Di Bekasi, remaja 12 tahun merayakan valentine dengan melakukan hubungan seks di kebun warga. Sehingga mereka terpaksa digiring ke rumah warga untuk diintrogasi kemudian warga menuntut mereka untuk segera dinikahkan. (pojoksatu.id 16/02/2015)

Panorama semacam ini memang seperti sudah tak asing terjadi di zaman yang sudah rusak ini, Islam tak lagi dijadikan petunjuk kehidupan, manusia tak lagi memiliki rasa malu, layaknya binatang yang tak berakal dan tak berpendidikan.

Keadaan muda mudi masa kini sudah sangat rusak, acap kali mereka berdalih atas nama kebebasan. Ya, kebebasan yang mereka agung-agungkan yang lahir dari faham demokrasi sekulerisme yang telah mempengaruhi sekaligus merusak jiwa-jiwa suci mereka sebagai umat terbaik.

Hal ini sungguh tak bisa kita diamkan begitu saja, kalau tidak ingin negara ini semakin porak poranda akibat dari tidak terkontrolnya pergaulan bebas di kalangan pemuda. Sebagai calon-calon pemimpin bangsa kelak, mereka sudah seharusnya dididik dan diarahkan untuk menjadi generasi unggul yang memiliki kepribadian dan pola sikap Islami, yang mana menjadikan Islam sebagai standar perbuatannya, dan merasa takut akan pembalasan di hari akhir kelak sebagai implementasi dari rukun iman yang enam.

Selain itu, pemerintah harusnya lebih serius dalam melenyapkan pergaulan bebas yang terjadi di masyarakat, tak bisa hanya tambal sulam dari aspek yang satu ke aspek yang lain. Segala penyebab yang menimbulkan pergaulan bebas itu sendiri juga harus segera dihilangkan. Negara harus mampu menerapkan hukum-hukum pergaulan islam dan menjaganya dengan penerapan hukum islam secara kaaffaah agar tertutup segala celah yang akan menimbulkan berbagai kerusakan atas nama kebebasan. []

Apa Komentar Kamu?