SHARE

Satunegeri.com – Dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Sekretaris Jenderal Dewan Syuro DPD FPI Jakarta Novel Chaidir Hasan Bamukmin atau Habib Novel menjadi saksi pertama. Dalam kesaksiannya, Novel mengungkapkan ada sejumlah bukti yang memberatkan Ahok melakukan penodaan agama.

Menurut Novel, Ahok juga menyinggung Surat Al-Maidah dalam buku yang ditulis Ahok berjudul Merubah Indonesia, pada halaman 40. Selain itu, ujar Novel, sejak Ahok masih menjadi calon Wakil Gubernur DKI Jakarta pada pilkada 2012, dia juga sudah mulai menyerang agama Islam. “Contohnya bahwa ayat suci no, ayat konstitusi yes, atau ayat-ayat konstitusi di atas ayat-ayat suci,” ujarnya.

Kuasa hukum Ahok, kata Novel, menanyakan alasan Novel tidak menasehati Ahok. Novel menjelaskan bahwa Ahok sudah berulang kali mengucapkan kalimat yang menghina umat Islam.

“Menarik buat hakim dan jaksa itu bahwa ternyata Ahok ini bukan baru sekali. Adapun yang pengacara tanyakan mengapa tidak menasehati, saya bilang nggak perlu dinasehati kalau Ahok itu mengucapkan sekali maka perlu saya nasehati, tapi Ahok ini berkali-kali,” imbuhnya.

Dalam kesaksiannya Novel mengaku juga memberikan surat permohonan penahanan Ahok kepada majelis hakim. Alasannya, ia melihat calon Gubernur Jakarta urut nomor dua itu sudah beberapa kali mengulangi perbuatannya dan menjadi salah satu tersangka dalam kasus penodaan agama yang lolos dari penahanan.

Sedangkan Ketua Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Salestinus menilai, enam orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang dugaan penistaan agama yang menyeret Gubernur Petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama tidak memenuhi kualiifikasi untuk didengar keterangannya di muka persidangan. “Buang-buang waktu saja mengingat mereka tidak melihat, mendengar dan mengalami langsung pernyataan Ahok. Jadi, itu harus ditolak sejak awal,” tuturnya.

Apa Komentar Kamu?