SHARE

Oleh : Ust. Arsal Sjah

Satunegeri.com – Puasa itu menahan lapar, haus dan syahwat. Menahan lapar dan haus meringankan tubuh kita, menahan syahwat membebaskan ruhani kita dari kungkungannya. Ringannya tubuh dan terbebasnya ruhani membuat jasad dan jiwa melangit, mudah beramal.

Ibarat balon yang ditiupkan gas nitrogen, jika tebal dan berat karet pembuat balon itu (bayangkan jika karet balon terbuat dari ban traktor) maka akan sulit gas nitrogen yang ditiupkan itu menerbangkannya. Tapi jika tipis dan ringan karet balon tersebut, akan mudah bagi gas nitrogen yang ditiupkan ke dalam balon untuk menerbangkannya.

Karet balon itulah tubuh kita dan gas nitrogen itulah ruhani kita. Jika puasa semakin meringankan tubuh karena pemberatnya (makanan) dikurangi, dan membebaskan ruhani dari kekangan karena pengekangnya (syahwat) dilemahkan, maka ruhani (ruh) yang asalnya dari Allah akan mudah “menerbangkan” tubuh yang ringan tersebut menemui Pencipta-Nya. Itulah jawaban atas pertanyaan, “Mengapa saat berpuasa (Bulan Ramadhan) orang lebih mudah untuk beribadah?”.

Beribadah itu sesungguhnya kita sedang mendekati Allah, maka ruhani yang bebas akan mudah membawa tubuh yang ringan mendekati Allah dengan cara beribadah.

Semakin kuat dorongan beribadah, maka semakin mudah untuk melaksanakannya. Semakin mudah melaksanakannya, maka semakin dekat kita dengan Allah SWT. Semakin dekat dengan Allah, maka semakin tumbuh subur jiwa kita. Selanjutnya kita akan tenggelam dalam cinta-Nya lalu hanyut dalam arus hidayah-Nya.

Ketahuilah, berpuasa itu sesungguhnya adalah upaya menghanyutkan diri dalam arus hidayah. Jika arus deras sungai dapat membunuh kita, maka arus hidayah justru menghidupkan dan menyelamatkan kita.

Maka berpuasalah, karena disanalah kita kan temukan kehidupan dan keselamatan dari-Nya.

#catatanharianramadhan

Apa Komentar Kamu?