SHARE

 

Satunegeri.com — Di tengah perlawan terhadap polusi udara, Harga Batubara justru kian perkasa. Secara perlahan, Harga Batubara bangkit dan berhasil menyentuh level tertinggi dalam tujuh bulan.

Mengutip Bloomberg, Jumat (3/6), Harga Batubara kontrak pengiriman Juni 2016 di ICE Futures Exchange menguat 0,84% dibanding sehari sebelumnya. Angka tersebut sekaligus level tertinggi sejak September 2015. Sepanjang tahun 2016, barubara melambung 12,03%.

Analis PT Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo mengatakan, Harga Batubara bergerak mengikuti harga minyak dunia.

Seperti halnya minyak, batubara mengalami tekanan di awal tahun akibat perlambatan ekonomi yang mengancam permintaan dan kenaikan suku bunga The Fed. Batubara mencatat level terendah di US$ 44,5 per barel pada tanggal 25 Januari.

Selanjutnya, Harga Batubara perlahan rebound seiring dengan berbaliknya tren pergerakan harga komoditas dari bearish menjadi bullish.

“Rebound Harga Batubara juga disebabkan karena faktor teknikal yakni sudah oversold sejak awal tahun,” kata Wahyu.

The Fed mengubah outlook kenaikan suku bunga dari empat kali menjadi dua kali tahun ini. Imbasnya dollar AS melemah dan berdampak pada menguatnya komoditas termasuk batubara.

Selama The Fed tidak menaikkan suku bunga, Wahyu optimistis tren penguatan Harga Batubara masih akan berlanjut.

Namun, jika dilihat dari sisi permintaan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Negara China sebagai konsumen batubara terbesar di dunia mengalami masalah ekonomi yang belum terselesaikan. Perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan Eropa juga belum dapat dikatakan stabil. Kondisi negara – negara emerging market tidak jauh berbeda.

Di samping itu, batubara sebagai komoditas energi penyebab polusi terus mendapat perlawanan. AS, Eropa hingga China berupaya mengurangi konsumsi batubara lantaran menimbulkan masalah polusi udara.

Negara-negara maju berlomba meningkatkan pembangkit listrik dengan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin hingga gas alam. Kini batubara berharap pada konsumsi negara berkembang terutama di kawasan Asia.

Meski demikian, batubara dapat mencari celah untuk menguat jika harga kembali ke level rendah. Apalagi jika The Fed menunda kenaikan suku bunga setelah data tenaga kerja mengecewakan.

“Secara umum sentimen ini akan bagus untuk batubara karena dollar AS menjadi sulit menguat,” lanjut Wahyu.

Apa Komentar Kamu?