SHARE

Satunegeri.com – Harga minyak terus bergerak naik pada Jumat (9/12) di tengah optimisme kesepakatan produsen non-OPEC untuk memangkas produksi minyak mereka. Namun, hal ini menjadi tumpang-tindih di tengah tidak jelasnya jumlah produksi yang dibatasi.

Countries (OPEC) akan melakukan pertemuan dengan negara non-OPEC di Wina, Austria pada Sabtu (10/12).

Dalam pertemuan itu, negara non-OPEC akan diminta bantuannya untuk mengendalikan pasokan minyak global.

Minyak mentah London Brent untuk pengiriman Februari LCOc1 meningkat 17 sen menjadi 54,05 dolar AS per barel. Nilai kontrak ini mencapai titik tertingginya sejak Juli 2015 seharga 55,33 dolar AS pada Senin (5/12). NYMEX untuk pengiriman Januar CLc1 tercatat mengalami peningkatan 33 sen menjadi 51,17 dolar AS per barel.

Azerbaijan menyatakan akan datang ke ibu kota Austria tersebut dengan proposal pengurangan produksi mereka. Rusia menyatakan akan memangkas produksi sebanyak 300 ribu barel per hari.

“Ada harapan untuk pengurangan yang lebih besar setelah negara bob-OPEC setuju untuk menekan produksi,” ujar Tomomichi Akuta, ekonom senior Mitsubishi UFJ Research and Consulting, seperti dilansir Reuters, Jumat.

Pekan lalu, OPEC sepakat memangkas produksi sebanyak 1,2 juta barel per hari pada semester pertama 2017. Keputusan ini dimaklumi bursa berjangka meskipun ada keraguan yang muncul terkait apakah jumlah tersebut mencukupi atau tidak.

Sementara itu, Arab Saudi dan Irak akan tetap memasok minyak mentah dengan volume kontrak penuh kepada pembeli Asia pada Januari, meskipun keputusan pemangkasan telah diambil.

Konsultan Wood Mackenzie menyatakan belanja global pada eksplorasi minyak dan gas pada 2017 diperkirakan akan jatuh di bawah tahun ini 40 miliar dolar AS. Saat ini, pasar tengah menanti data mingguan jumlah rig minyak Amerika Serikat yang dikeluarkan oleh perusahaan jasa minyak Baker Hughes.

Apa Komentar Kamu?