SHARE

60HILIRISASI_KADIN

Satunegeri.com – Harita Group melalui anak perusahaannya, PT Megah Surya Pertiwi (PTMSP) akan membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) nikel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara dengan nilai investasi diperkirakan mencapai kurang lebih US$ 320,000,000 (Tiga Ratus Dua Puluh Juta Dolar Amerika Serikat) dengan menggandeng sebuah Perusahaan BUMN dari Tiongkok Xinxing Ductile Iron Pipes Co., Ltd, dan beberapa perusahaan lainnya dari Singapura yaitu Xinxing Ductile Iron Pipes (Singapore) Pte. Ltd, Qiyun Investment Holdings Pte. Ltd, dan Corsa Investments Pte. Ltd.
Harita sendiri diwakili oleh PT Harita Jayaraya yang merupakan induk perusahaan Harita di Indonesia. Investasi ini merupakan bentuk komitmen Harita Group dalam mendukung program peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Guna menjamin kepastian suplai bahan baku mineral (feedstock) untuk beroperasi, PTMSP akan membuat Perjanjian Kerjasama jual-beli bahan mentah nikel dengan PT Trimegah Bangun Persada (PTTBP) dan PT Gane Permai Santosa (PTGPS), masing-masing adalah pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi nikel yang terafiliasi di bawah bendera Harita Group dan telah beroperasi produksi di Pulau Obi. Menurut penjelasan Senior Geologis Harita Group, Robby Rafianto – CP IAGI, MAusIMM, cadangan dan sumber daya nikel yang dimiliki oleh Divisi Nikel Harita Group, cukup dan memadai untuk membangun smelter nikel.

Selanjutnya General Manager Nickel Smelter Project Harita, Handrijono menjelaskan bahwa smelter yang akan dibangun menggunakan teknologi Rotary Kiln Submerge Arc Furnace (RK-SAF) terdiri dari 3 line yang akan memerlukan daya listrik sebesar 120MW dan akan menghasilkan 100,000 ton Ferronickel per tahun. Handrijono menambahkan, bahwa untuk kebutuhan tenaga listrik, PTMSP akan membangun PLTU secara mandiri terdiri dari 3 unit pembangkit dengan kapasitas 3 x @40 MW sesuai kebutuhan smelter.

Hendrijono melanjutkan “Kami berharap proyek pembangunan smelter ini dapat didukung oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta masyarakat setempat. Kami juga berharap pembangunan smelter ini dapat memberikan manfaat melalui penyerapan tenaga kerja, pendapatan asli daerah (PAD), pembayaran pajak dan non-pajak dan program pengembangan masyarakat”.

Sementara itu terkait dengan rencana pelaksanaan peletakan batu pertama smelter nikel ini, Arif Perdanakusumah, Senior GM External Relations Harita Group mengungkapkan akan diadakan pada sekitar pertengahan Juni 2015.

Apa Komentar Kamu?