SHARE

 

Satunegeri.com – Sesekali pandangi dengan seksama orang-orang hebat di sekitar kita. Jangan hanya sekadar berdecak kagum. Itu semua orang pasti bisa. Bocah ingusan pun bisa, karena tak perlu ilmu untuk yang seperti itu. Cukup pasang wajah terpukau, geleng-geleng kepala dan mulut ternganga. Selesai.

Coba kita ambil waktu sejenak. Perhatikan mereka yang hebat itu dengan perlahan. Tak usah buru-buru. Maka kita akan sampai pada satu kesimpulan yang sama; mereka pantas disebut hebat.

Mereka, dari awal, sangat menyadari bahwa hebat itu sejatinya adalah beban. Berat sekali. Tapi itulah wujud aslinya. Hebat, identik dengan kesulitan.

Atau, ada di antara mereka awalnya tidak menyadari, tapi setelah berproses baru sadar. Artinya, syarat mutlak untuk menjadi orang hebat, harus berhasil terlebih dahulu membangun utuh bangunan kesadaran, bahwa hebat itu berat. Bukan sesuatu yang ringan.

Karena itulah tak semua orang yang mau memikulnya. Padahal jika ditanya, semua orang pasti ingin menjadi hebat. Mungkin juga termasuk kita. Hidup ini hanya sekali, terlalu naif jika memilih pilihan biasa-biasa saja bukan? Sayangnya, semua orang memang menginginkannya, hanya ingin saja. Tidak lebih.

Syaikh Muhammad Ghazali pernah berkata, “Kesulitan-kesulitan hidup dalam diri seseorang selalu selaras dengan keinginan yang hendak dia capai, baik yang sulit maupun yang sederhana,”

Hebat adalah pilihan berat atau bahkan yang paling berat dalam hidup. Maka, tentu tak mungkin hidup membebankan ‘hebat’ di antara orang-orang berpunggung lemah. Hidup tidak akan memilih orang yang seperti itu. Kecuali kepada mereka yang berhak untuk disebut sebagai pahlawan. Yaitu orang-orang yang tabah dan tegar.

Begitulah orang-orang hebat di sekitar kita. Hebat itu adalah takdir yang dijemputnya dari kehidupan. Bersungguh-sungguh. Mereka memahami bahwa itu membutuhkan kerja-kerja terbaik. Amal-amal terbaik. Mereka memahami benar bahwa ada seleksi yang jelas untuk itu semua.

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu YANG LEBIH BAIK AMALNYA. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 1-2)

Dan orang-orang hebat tetap menjaga kesadarannya hingga akhir hayat. Bahkan, ia akan terus berusaha untuk tetap hebat hingga kampung akhirat. Sebagaimana Imam Ahmad pernah ditanya, “Kapan engkau akan istirahat?” Beliau berkata, “Saat kaki ku melangkah di dalam surga.” Masya Allah, hebat yang totalitas.

Agaknya sudah cukup kita memperhatikan sebagian contoh wujud orang hebat di atas. Selanjutnya, kita juga harus memastikan diri menjadi orang yang hebat. Iya kan? Karena jika tidak, sama saja kita dengan orang yang geleng-geleng kagum, wajah terpukau, sembari mulut terbuka menganga. Tidak lebih.

Jika tadi Imam Ahmad memastikan impian ‘hebat’nya hingga ke surga, kita tentu menginginkan yang sama. Tak ada yang mau mencitakan sebaliknya. Kita ingin hebat di dunia, hebat di akhirat. Belum ada orang waras yang bercita-cita masuk neraka. Belum.

Maka, seperti yang telah kita pahami di awal, hebat adalah beban. Hanya memilih orang-orang yang layak memikulnya. Termasuk Surga. Karena ini merupakan hebat tertinggi. Hebat yang totalitas. Dan Allah selalu memberikan pertolongan bagi orang-orang yang hebat seperti ini.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah 214)

Selamat memulai tahun baru hijriah 1435 H. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga kesungguhannya untuk memperbaiki diri. Juga senantiasa bersemangat luaskan manfaat diri. Aamiin.

Salam Hebat!

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

two × two =