SHARE

36OPEC-ant

Satunegeri.com –  Menteri ESDM Sudirman Said menghadiri undangan “6th International Seminar OPEC” yang dilaksanakan pada 3-4 Juni 2015 di Hofburg Palace, Vienna, Austria.  Seminar ini mengangkat tema “Petroleum: An Engine for Global Development”. Turut Mendampingi Menteri ESDM adalah Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ESDM I Gusti Ngurah Wiratmaja dan Staf Khusus Menteri Widhyawan Prawiraatmadja.

Indonesia secara resmi menyatakan keinginan untuk kembali bergabung dalam OPEC. Hal ini disampaikan melalui pertemuan dengan Sekretaris Jenderal OPEC, Abdalla Salem el-Badri serta kepada beberapa negara utama anggota OPEC. “Secara khusus, OPEC akan mengadakan rapat pada hari Jumat, 5 Juni 2015 untuk membahas rencana Indonesia ini”, jelas Sudirman di Vienna Kamis (4/5).

Saat ini status Indonesia adalah suspended sejak tahun 2009. Anggota-anggota utama OPEC yang sudah ditemui menyatakan dukungan penuh terhadap keinginan Indonesia untuk bergabung kembali dalam OPEC karena Indonesia merupakan salah satu negara yang berperan dalam pendirian dan pengembangan OPEC. “Aktifnya kembali Indonesia di OPEC dan pertemuan bilateral dengan berbagai negara membuka kembali peluang kerjasama dan dukungan dari negara-negara anggota OPEC dalam penguatan kedaulatan energi. Kesempatan dukungan ini sempat tertunda selama beberapa tahun sejak kita menyatakan ketidakaktifan dalam OPEC”, ujar Sudirman.

Pertemuan Bilateral dengan Negara Eksportir minyak
Dalam kesempatan yang sama dilakukan juga pertemuan bilateral antara Menteri ESDM serta delegasi Indonesia dalam melanjutkan pertemuan kunjungan Menko Perkonomian bersama Menteri ESDM di Iran beberapa waktu yang lalu. “Tindak lanjut terkini adalah kemungkinan PT Pertamina (Persero) untuk masuk ke dalam kegiatan usaha hulu, baik sebagai operator atau pemegang share”, lanjut Sudirman.

Sudirman juga mendorong untuk terus melakukan disuksi lebih detail agar Iran dapat menyuplai minyak mentah dalam jumlah besar ke Indonesia untuk jangka waktu yang panjang. Sementara untuk transaksi, masih memerlukan pembahasan lebih lanjut sambil menunggu dicabutnya sanksi perdagangan terhadap negara Iran oleh komunitas internasional.

Dalam diskusi tersebut, selain crude, Iran juga menawarkan kondensat dalam jumlah besar dan LPG. Saat ini, Produksi Iran untuk kondensat adalah 1 juta barel dan produksi LPG 15 juta MT. Di sisi lain, Iran membuka kesempatan bagi indonesia berinvestasi dalam bidang pupuk, mengingat harga gas di Iran sangat murah (2 – 3 USD/MMBTU). Lokasi yang ditawarkan adalah di bagian selatan Iran yang dekat berbatasan dengan Pakistan. Jika program ini diimplementasikan, maka Indonesia dapat memiliki suplai pupuk urea yang kompetitif dalam jangka panjang.

Selain dengan Iran, lanjut Sudirman, Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) juga membuka peluang untuk berinvestasi melalui National Oil Company (NOC) Mubadala Petroleum untuk mengoperasikan blok-blok minyak di Indonesia. Saat ini Mubadala telah mengoperasikan Blok Sebuku dan juga tengah melakukan joint study (tahap awal eksplorasi) di wilayah Natuna.

“Di sisi hilir Pemerintah UEA menawarkan crude dan BBM dengan skema pembelian langsung antar NOC tanpa perantara. Pemerintah UEA juga menawarkan untuk berpartisipasi dalam penanaman investasi untuk pembangunan kilang minyak”, tutup Sudirman.

Apa Komentar Kamu?