SHARE

Satunegeri.com – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, perbedaan logo atau slogan sebuah negara untuk sektor investasi, perdagangan dan pariwisata adalah hal yang wajar.

Sejumlah negara menerapkan hal serupa. Misalnya, Amerika Serikat, Singapura, Kanada, Selandia Baru, Meksiko dan Australia.

Meski demikian, Arief mengatakan, ide Presiden Joko Widodo untuk membuat satu slogan untuk semua sektor sebagai nation branding adalah ide yang cemerlang.

Ia pun menyebut, pemerintah akan menerbitkan nation branding tersebut.

“Jadi kita akan punya family branding yang orang-orang tahu bahwa kalau logo ini identik dengan Indonesia,” ujar Arief di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Slogan dan logo itu nantinya akan menghiasi seluruh produk-produk Indonesia, khususnya produk yang diekspor. Misalnya, kopi bubuk, teh sachet, dan produk olahan lain.

Britania Raya, sebut Arief, juga menerapkan satu slogan dan simbol untuk seluruh sektor. Slogan dan simbol itu merupakan nation branding mereka.

Arief mengatakan, dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden, Selasa siang, dibahas sejumlah kemungkinan soal pembentukan nation branding.

Misalnya, apakah menggunakan logo dan slogan “Wonderful Indonesia” milik Kemenpar, namun, tetap memakai gaya huruf sama dengan “Remarkable Indonesia” yang digaungkan Kemendag dan BKPM.

Atau, dibahas pula kemungkinan soal bentuk-bentuk lainnya. Pemerintah akan segera memutuskan.

“Namun, maunya sih logo ‘Wonderful Indonesia’ akan digunakan sebagai pattern. Tapi nantilah dilihat saja,” ujar Arief.

Presiden Joko Widodo sebelumnya mengkritik kementerian dan lembaga negara yang saat ini belum kompak dalam membangun citra nasional.

“Misalnya Kementerian Perdagangan mengangkat tagline ‘Remarkable Indonesia’. Tapi Kementerian Pariwisata mengusung ‘Wonderful Indonesia’,” ujar Jokowi dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa.

Demikian pula dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang juga mempunyai tagline sendiri yang berbeda.

Akibat strategi yang tidak komprehensif itu, upaya membangun citra positif Indonesia di dunia tidak optimal.

“Sehingga tidak memperkuat dan meningkatkan citra terhadap Indonesia, tetapi justru malah semakin mengurangi,” ujar Jokowi.