SHARE

Satunegeri.com – Biaya hidup di Jepang yang tinggi membuat orang kerap berpikir seribu kali untuk menginjakkan kaki di Negeri Matahari Terbit itu. Tak terkecuali saat kesempatan bersekolah di sana datang.

Survei dari konsultan investasi Mercer menyatakan, negara tersebut berada di posisi ketiga pemilik biaya hidup paling mahal se-Asia pada 2016. Karena itu, wajar ketika dapat kesempatan sekolah plus beasiswa pikiran akan terpaku pada biaya hidup.

“Padahal tidak segitunya. Kalau dihitung-hitung, bisa jadi biaya hidup di Jepang sama dengan kota besar di Indonesia,” ujar Natasha Talisca Adrianto, salah satu mahasiswi asal Indonesia yang kini berada di Negeri Sakura ditemui Kompas.com, Kamis (22/9/2016).

Saat ini Natasha adalah mahasiswi dari salah satu kampus di Jepang, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). Lokasi kampus itu ada di Beppu, Prefektur Oita. Karena berada di kota kecil yang jauh dari kota metropolitan seperti Tokyo, biaya hidupnya relatif bisa ditekan.

Di sana, kata Natasha, dia bisa menghabiskan kurang lebih 80.000 yen atau setara Rp 10 juta per bulan, menggunakan kurs saat ini.

“Itu sudah mencakup biaya tempat tinggal, makan sehari-hari, hingga transportasi dari dan menuju kampus,” imbuhnya.

Kalau disiasati dengan memasak tiap hari, kata Natasha, biaya hidup bisa berkurang lagi.

“Belanja makanan atau bumbu racik terus masak di apartemen bisa menghemat 10.000-20.000 yen (per bulan),” imbuhnya.

Cakupan yang dijelaskan Natasha tidak termasuk biaya kuliah karena kebanyakan mahasiswa di kampusnya mendapatkan beasiswa.

“Tidak jauh berbeda dengan biaya hidup di kota besar di Indonesia. Teman saya yang berada di Jakarta atau Bandung juga kalau diakumulasi biaya hidupnya tinggi kok,” ujar dia.

Pernah ia bertanya pada beberapa teman yang berkuliah di Jakarta dan Bandung. Saat itu ia mendapati angka Rp 2 juta hingga lebih dari Rp 4 juta hanya untuk tempat tinggal standar kos atau apartemen mahasiswa.

“Itu belum sama transportasi, makan, atau jalan-jalan saat akhir pekan,” ujarnya.

Kalaupun jumlah pengeluarannya masih dirasa mahal, Natasha punya siasat lain, yaitu bekerja paruh waktu.

“Seperti saat ini, saya bekerja di lembaga les bahasa. Pekerjaannya, mengajar Bahasa Inggris,” ujarnya.

Di Jepang, kata dia, mahasiswa asing boleh bekerja paruh waktu hingga 28 jam per minggu. Dengan begitu, dalam satu bulan ia bisa mendapat uang tambahan kurang lebih 50.000 sampai 60.000 yen.

Rekannya, Matteo Giuberto yang juga mahasiswa APU menjelaskan hal yang sama. Untuk mendapat uang tambahan, Matteo bekerja menjadi chef di restoran yang menyajikan menu Korea.

“Uang tambahan yang didapat juga cukup untuk jalan-jalan ketika liburan,” ujar Matteo.
Saat ada waktu libur, Matteo sering mengunjungi tempat-tempat wisata di Jepang. Misalnya, Kyoto atau bahkan Tokyo.

“Seru juga ke kota metropolitan di Jepang. Bisa belanja macam-macam, dari mulai baju hingga elektronik,” tambahnya.

Asyiknya bekerja paruh waktu

Pengalaman bekerja paruh waktu dirasakan pula oleh Aisyah Fakhriyah Ahmad Wadi, mahasiswi asal Indonesia yang juga berkuliah di APU. Namun, kata dia, bekerja di Jepang akan lebih mudah ketika orang bersangkutan menguasai bahasa Negeri Sakura itu.

“Sebelum datang ke Jepang, saya memang sudah menguasai bahasa Jepang. Rupanya itu bisa jadi modal mencari pekerjaan paruh waktu dengan upah tinggi,” ujar Aisyah.
Aisyah Fakhriyah Ahmad Wadi, salah satu mahasiswi Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) asal Indonesia yang bekerja paruh waktu di mini-market kampus.

Kini, selain aktivitas belajar, ia bekerja paruh waktu di minimarket yang berada di kawasan kampusnya. Ketika libur atau memiliki waktu luang, ia kerap menjadi penerjemah bahasa Jepang ke Inggris untuk kebutuhan televisi lokal.

“Jadi penerjemah, upahnya bisa lebih besar. Kalau diakumulasi dari upaya kerja saya, pendapatan sebulan bisa sampai 90.000 yen atau bahkan lebih,” kata dia.

Dari pendapatan itu, ujar Aisyah, kebutuhan hidupnya per bulan sudah bisa tercukupi tanpa mengutak-atik sangu yang diberikan orangtuanya.

Meski demikian, tegas Aisyah, asyiknya bekerja paruh waktu tak boleh mengganggu aktivitas kuliah. “Harus pintar bagi waktu. Bekerja berarti harus siap dengan segala konsekuensinya,” tambah dia.

Sumber: Kompas Online

Apa Komentar Kamu?