SHARE

Oleh Muchtar Efendi Harahap (Ketua NSEAS, Network For South East Asian Studies)

Satunegeri.com – Pemerintahan DKI Jakarta dipimpin semula Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok hasil Pilkada 2012. Pada 2014 dilaksanakan Pilpres, Jokowi sebagai Capres berhasil memenangkan pertarungan. Ahok tetap sebagai Wagub. Pada 2015, Ahok dikukuhkan sebagai Gubernur DKI, pengganti Jokowi.

Pada 2017 akan diselenggarakan Pilkada DKI Jakarta. Ahok menyatakan diri akan menjadi Cagub. Ahok “ambisius” dan punya motif kekuasaan berlebihan. Ingin mempertahankan kekuasaan sekalipun berbagai komponen rakyat DKI menentang dan menolaknya. Hampir setiap minggu aksi demo rakyat anti Ahok muncul di DKI.

Memiliki motif kekuasaan berlebihan adalah hak Ahok. Namun, sebagian rakyat menilai Ahok telah gagal urus pemerintahan dan rakyat DKI. Ahok tidak mampu sebagai Gubernur. Prestasi sangat rendah, kinerja sangat buruk dan rapor merah, dari kegagalan ke kegagalan. Jika Ahok lanjut jadi Gubernur, kondisi sosial ekonomi rakyat DKI dan pembangunan pasti semakin merosot.

Standar penilaian kegagalan Ahok, dapat digunakan (1) Janji-Janji Kampanye Pasangan Jokowi dan Ahok dalam Pilkada 2012; dan, (2). Perda No. 2/2012 tentang RPJMD Provinsi DKI Jakarta 2013-2017.

Apa indikator kegagalan Ahok?
1.Rakyat DKI nganggur kian banyak.
2.Rakyat DKI miskin kian banyak.
3.Kesenjangan golongan kaya dan miskin melebar.
4.Pertumbuhan ekonomi DKI terus menurun.
5.DKI gagal meraih penghargaan “Adipura”.
6.Lalu lintas kota DKI paling “macet” se dunia.
7.Jumlah titik “banjir” belum berkurang signifikan.
8.Realisasi Anggaran Belanja rendah.
9.Pembangunan Infrastruktur Terhenti.
10.Kualitas Manajemen dan Perlindungan Asset Pemprov DKI rendah.

Kesimpulannya, Ahok telah gagal urus pemerintahan dan rakyat DKI. Tidak layak untuk terus sebagai Gubernur. Jika masih dipertahankan, kondisi sosial ekonomi rakyat dan pemerintahan DKI akan terus merosot dari hari ke hari.

Pendukung “buta” Ahok acap kali klaim, Ahok telah berhasil !. Tapi tiada data, fakta dan angka. Hanya klaim fiksi dan buta terhadap “realitas obyektif” DKI Jakarta. Klaim berhasil hanya di media massa tertentu pendukung “buta” Ahok. Guna “pencitraan” dan menutup-nutupi kegagalan-kegagalan Ahok. Bagaikan pepatah, “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”

Apa Komentar Kamu?