SHARE

Satunegeri.com- Potensi pengembangan geothermal atau panas bumi yang digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi kerap dijadikan alat kampanye untuk menghimpun suara masyarakat dalam momen pemilihan kepada daerah (pilkada).

Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak mengatakan, tidak jarang peserta pilkada menggunakan upaya eksplorasi panas bumi sebagai senjata kampanye dalam pilkada. Hal ini semakin diperparah dengan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat panas bumi sebagai sumber daya.

“Masyarakat tidak tahu apa-apa, makanya ketidaktahuannya ini biasanya dijadikan alat kampanye oleh para pasangan calon (paslon),” kata Yunus di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, pekan lalu.
Misalnya, menurut Yunus, eksplorasi panas bumi yang sering digunakan sebagai alat kampanye hitam dengan mengatasnamakam bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Masyarakat yang awam terhadap pengetahuan panas bumi pun dibentuk opininya sedemikian rupa, sehingga muncul opini masyarakat bahwa salah satu sumber energi yang murni berasal dari alam ini memang berbahaya.

“Begini yah, kan ada misalnya calon yang setuju, dia menggagas pengembangan energi ini, tapi ada calon menentang demi mendulang suara, dia berikan informasi yang negatif ke masyarakat, ini yang sering memicu opini-opini itu,” tegas Yunus.

Padahal, saat ini, ia menerangkan, Indonesia merupakan negara ketiga terbesar di dunia sebagai negara penghasil panas bumi. Hal ini didukung dengan hampir 40 persen potensi panas bumi dunia yang berada di Indonesia.

Namun, sayangnya, dari sekian banyak potensi tersebut, baru sekitar empat persen yang dimanfaatkan. “Padahal potensial sekali, tapi itu sering digunakan alat kampanye, ini yang salah. Makanya muncul opini opini buruk di massyarakat, padahal engga buruk,” pungkasnya.

Apa Komentar Kamu?