SHARE

Satunegeri.com – Kritik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan atas rencana PT PLN (Persero) yang ingin merambah bisnis panas bumi mendapat dukungan dari Center of Energy and Resources Indonesia (CERI).

Pengamat CERI Yusri Usman menilai rencana PLN mengakuisisi separuh saham PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) serta keikutsertaannya dalam lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Salak dan Darajat milik PT Chevron Geothermal Indonesia (CGI), hanya akan mengganggu target pemerintah merampungkan megaproyek 35 ribu Megawatt (MW) pada 2019.

“Pernyataan Menteri ESDM agar PLN fokus ke target pembangunan transmisi 35 ribu MW yang diberikan pemerintah ada benarnya. Dengan kondisi seperti itu, saya ragu PLN bisa fokus mengembangkan energi panas bumi,” kata Yusri.

Kemarin, Jonan memang telah meminta manajemen PLN untuk tidak memecah fokus menyelesaikan pembangunan transmisi tenaga listrik ketimbang menambah kesibukan memulai bisnis panas bumi.

“Masalah utama distribusi tenaga listrik belum tuntas,” kata Jonan.
Mantan Menteri Perhubungan mengakui bahwa rasio elektrifikasi Indonesia saat ini sudah mencapai 88,3 persen. Namun, pemerataannya terbilang masih kurang. Ia menyebut salah satunya rasio cakupan (coverage ratio) listrik di Papua yang hanya sebesar 50 persen.

Menurut Jonan, pembangunan transmisi tenaga listrik mutlak dilakukan agar distribusi kelistrikan merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Selama ini, rasio elektrifikasi hanya mmenghitung konsumsi listik rumah tangga tanpa menghitung fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdapat di wilayah bersangkutan. Transmisi ini harus jadi dulu, jadikan prioritas,” jelasnya.

Yusri menilai jika PLN ingin membantu pengembangan energi panas bumi di Indonesia, maka ada baiknya berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero) yang sudah lama memiliki pengalaman di bidang tersebut melalui anak usahanya PGE.

Apa Komentar Kamu?