SHARE

kh-noer-alie-_120806055916-107

Satunegeri.com РNama K.H. Noer Ali saat ini menjadi salah satu salah satu jalan utama  yang menghubungkan Bekasi dengan Jakarta, namun mungkin banyak yang bertanya-tanya siapa sosok K.H. Noer Ali tersebut dan apa perannya di Bekasi hingga namanya diabadikan menjadi nama jalan.

Kiai Haji Noer Ali memang bukan ulama sembarangan, sebagai guru tempat menimba ilmu agama, tapi juga seorang pejuang melawan penindasan penjajah Belanda di masanya. Belanda menjulukinya Singa Karawang-Bekasi karena selain mendirikan dan melakukan pendidikan melalui pesantren, beliau juga memimpin pergerakan perang gerilya.

Haji Noer Ali mendapat pondasi ilmu agama Islam yang kukuh sejak berumur tujuh tahun, dimana ia berguru ilmu agama Islam ke ulama-ulama tersohor, misalnya belajar ke Guru Maksum di Bekasi dan Guru Mughni di Jakarta. Sampai akhirnya saat remaja Noer Ali menyempurnakan ilmu agamanya dengan ‘nyantri’ ke Kota Mekkah.

Sambil belajar ilmu agama, Haji Noer Ali juga mempelajari ilmu-ilmu beladiri, berkuda dan berburu musang kala hewan masih menjadi hama di kalangan petani. Pada akhirnya semangat belajarnya yang tinggi membuat ia berguru sampai tanah suci. Beberapa ulama di lingkungan Masjidil Haram jadi gurunya.

Saat berguru ke Mekkah itu, usia Haji Noer Ali masih menginjak 20 tahun. Di sana ia menuntut ilmu di Madrasah Darul Ulum. “Dia berguru hampir semua ilmu, Hadist, Fiqih, Nahwu atau sastra, dan ilmu mantiq,” kata Sejarawan Bekasi, Ali Anwar kepada merdeka.com, di Bekasi, kemarin.

Noer Alie muda memutuskan kembali ke Tanah Air pada 1939 setelah mendapat kabar negerinya ditindas kaum penjajah. Dia mulai membangun pesantren kala itu. Pendidikan formal dan agama mulai dibangun untuk melawan kebodohan dari para penjajah.

Perjuangannya dimulai saat ia mendirikan madrasah, dimana kemudian beberapa santrinya dipersilakan bergabung kepada himpunan pasukan musuh. Untuk mencuri ilmu bertempur Heiho (pembantu prajurit), Keibodan (barisan pembantu polisi). Di sisi lain, seorang santrinya bernama Marzuki Alam, dipersilakan mengikuti latihan kemiliteran Pembela Tanah Air (Peta). Dia menggelorakan kepada santrinya untuk mengangkat senjata.

Pada bulan November 1945, KH Noer Alie membentuk Laskar Rakyat. Seluruh badal (pasukan) dan santrinya diperintahkan menghentikan proses belajar-mengajar untuk mendukung perjuangan. Kondisi negara sedang berada dalam puncak posisi kemerdekaan. Namun, beberapa ancaman mulai terlihat.

Dia kemudian mengeluarkan fatwa ‘wajib hukumnya berjuang melawan penjajah’. Dalam waktu singkat, Laskar Rakyat berhasil menghimpun sekitar 200 orang yang merupakan gabungan para santri dan pemuda sekitar Babelan, Tarumajaya, Cilincing, Muaragembong. Mereka dilatih mental oleh KH Noer Alie dan secara fisik dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bekasi dan Jatinegara.

Tahun 1956, ia diangkat menjadi anggota Dewan Konstituante dan tahun 1957 menjadi anggota Pimpinan Harian/Majelis Syuro Masyumi Pusat. Tahun 1958 menjadi Ketua Tim Perumus Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat di Lembang Bandung, yang kemudian melahirkan Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat.

Tahun 1971-1975 menjadi Ketua MUI Jawa Barat. Di samping itu, sejak 1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, ia bersikap sebagai pendamai, tidak pro satu aliran. Dengan para kiai Muhammadiyah, NU, maupun Persis, ia bersikap baik

Apa Komentar Kamu?