SHARE

Oleh. Rahma Widhiasari (Indonesia Resources Studies/IRESS)

Penggunaan batu bara di beberapa negara masih menjadi prioritas, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik. Kondisi ini dikarenakan murahnya harga batubara dibandingkan energi yang lain, jumlah cadangan berlimpah di beberapa negara, serta adanya peningkatan efisiensi energi batubara. Prediksi EIA menyebutkan bahwa hingga beberapa tahun ke depan, beberapa negara masih akan terus menggunakan batubara sebagai sumber energi listrik masa depan.

Pada 2015, EIA mencatat bahwa batubara memasok hampir 30 persen dari konsumsi energi global. Angka ini tertinggi sejak 1970 dan memberikan 40 persen listrik dunia. Sementara jumlah ini diperkirakan akan turun menjadi 30 persen pada tahun 2040, pada tahun tersebut diperkirakan Amerika baru akan mempergunakan simpanan batubara nasionalnya, sehingga diprediksi 34 persen batubara global berasal dari Amerika pada 2040. Jadi, batubara akan tetap menjadi satu sumber energi utama di banyak negara, meskipun ada banyak sumber energi lain, yakni minyak bumi, gas alam dan energi terbarukan.

Di Asia Tenggra, terutama di Cina dan India yang mengalami peningkatan kebutuhan energi yang pesat, batubara diprediksi akan menjadi sumber energi terbesar dalam bauran energi di kawasan ini. Ini karena jumlahnya yang melimpah dan harganya terjangkau. Beberapa negara masih membutuhkan batubara, namun perlu upaya peningkatan efisiensi energi untuk mencapai target pengurangan emisi karbon. Saat ini, efisiensi konversi batubara menjadi hal baru yang perlu diteliti. Pembangkit listrik akan lebih efisien bila menggunakan lebih sedikit bahan bakar dan memancarkan karbon dioksida yang lebih sedikit, sehingga tidak merusak iklim. EIA mencatat pada pengukuran kinerja PLTU efisiensi penggunaan batubara telah mencapai 30 persen. Batubara dinilai menjadi salah satu sumber energi yang efisien.

Sementara itu, di Indonesia, tren penggunaan batubara pun meningkat. Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy Noorsaman Sommeng, mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari separuh pasokan listrik di Indonesia berasal dari pembangkit batu bara. Listrik dari batu bara juga sangat efisien harganya, hanya sekitar Rp 800/kWh. Menurut Sommeng (2017), sejauh ini belum ada energi alternatif yang ketersediaannya maupun harganya bisa menandingi batu bara.

Bisnis Batubara dan Keuntungan Swasta

Pada paparan di atas diterangkan bahwa batubara akan terus menjadi prioritas sumber energi, tidak hanya di Indonesi tapi di beberapa negara tetangga. Para pengusaha batubara telah memanfaatkan peluang ini dengan baik, berton-ton batubara nasional dengan mulus diekspor menjadi sumber-sumber energi di negara lain.

Salah satu hasil penelitian INDEF 2017 memaparkan bahwa bisnis batu bara memiliki prospek yang bagus lantaran sumber mineral ini masih diminati dibanyak negara, khususnya di kawasan Asia. Terlebih abu sisa pembakaran batu bara asal Indonesia hanya menyisakan lima persen emisi. Jauh berbeda dengan emisi batu bara asal Tiongkok yang mencapai 30 persen. Pada 2017, harga batu bara bergerak fluktuatif, namun dengan tren meningkat. Harga batu bara sempat mencapai titik terendah pada Mei 2017, yakni $74,52 per metrik ton. Harga batu bara kembali naik, dan menyentuh $97,14 per metrik ton pada Oktober 2017.

Kemudian, sejalan dengan tren harga batu bara yang naik, kinerja keuangan emiten batu bara perlahan-lahan mulai terangkat. Perbaikan harga batu bara dunia menjadi penopang kinerja para perusahaan batu bara. Adaro juga mampu membukukan laba bersih $413,75 juta, naik 96 persen hingga kuartal III-2017. Serupa dengan Adaro, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), volume penjualan batu bara pada kuartal III-2017 memang turun 6 persen sebesar 5,8 juta ton, tapi pendapatannya melesat hingga 20 persen menjadi $1,16 miliar. Laba bersih yang dikantongi pun naik 147 persen jadi $172,17 juta.

Perbaikan kinerja keuangan para emiten batu bara berimbas langsung pada pergerakan saham emiten batu bara. Harga saham Adaro misalnya, meningkat 5 persen menjadi Rp1.775 per saham per 4 Desember 2017 dari Rp1.695 per saham pada 5 Januari 2017. Begitu juga dengan saham Indo Tambangraya yang meningkat menjadi Rp21.125 per saham dari sebelumnya Rp16.600 per saham di awal tahun.

Kaya Dari Batubara

Majalah ekonomi terkemuka, Forbes Asia, untuk pertama kali melansir daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Total nilai kekayaan mereka mencapai US$95 miliar atau sekitar Rp1.107 triliun.

Sementara itu, dari delapan pebisnis tambang batu bara dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia itu, kekayaanya terus meningkat seiring dengan meningkatnya harga batu bara internasional

Pundi-pundi kekayaan Low Tuck Kwong yang mencapai US$3,7 miliar dua tahun lalu. Demikian pula kekayaan Kiki Barki, setahun lalu mencapai US$680 juta atau Rp7,9 triliun.

Sedangkan, Garibaldi Thohir dan Benny Subianto. Sebagian kekayaan mereka diperoleh dari pengoperasian perusahaan tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk.Harga saham Adaro kini telah pulih dari penurunan pada September, meski masih tergerus 15 persen dibanding tahun lalu.

Di antara pebisnis di sektor itu, Peter Sondakh yang mampu mencatat peningkatan kekayaan dari kepemilikan saham di perusahaan batu bara. Harga saham PT Golden Eagle Energy Tbk yang dimilikinya menguat, karena melaporkan keuntungan yang lebih tinggi.

Sementara itu, keberuntungan diraih Theodore Rachmat. Karena, dia memperoleh tambahan kekayaan dari batu bara dan aset lainnya, termasuk kepemilikan pada agen sepeda motor, Daya Adicipta Mustika.

Berikut nilai kekayaan sebagian orang kaya RI di bidang usaha batu bara:

1. Peter Sondakh
Usia: 61
Kekayaan: US$2,7 miliar atau Rp31,5 triliun.
Peringkat: 8

2. Theodore Rachmat
Usia: 69
Kekayaan: US$1,9 miliar atau Rp22,2 triliun.
Peringkat: 14

3. Low Tuck Kwong
Usia: 65
Kekayaan: US$1,37 miliar atau Rp16 triliun.
Peringkat: 21

4. Garibadi Thohir
Usia: 48
Kekayaan: US$960 juta atau Rp11,2 triliun.
Peringkat: 30

5. Benny Subianto
Usia: 71
Kekayaan: US$790 juta atau Rp9,2 triliun.
Peringkat: 37

6. Kiki Barki
Usia: 73
Kekayaan: US$680 juta atau Rp7,9 triliun.
Peringkat: 43

Apa Komentar Kamu?