SHARE

image-satunegeri

SatuNegeri.com – Kebijakan pemerintah yang menaikkan harga gas untuk industri sampai 55 persen, ditolak oleh Asosiasi Industri yang tergabung dalam Forum Lintas Asosiasi Industri.

Menurut kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di Jakarta, Jumat, setuju bila harga gas naik secara bertahap dan adanya kepastian pasokan gas, "namun bila harga naik sekaligus kami menolak," katanya.

Para pelaku usaha yang tergabung dalam 30 asosiasi industri gas hari ini menurut Sofjan, hari ini menyampaikan keberatan atas kenaikan harga gas tersebut melalui surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

kenaikan harga gas sebesar 55 persen yang ditetapkan secara sepihak oleh Perusahaan Gas Negara akan menaikkan ongkos produksi sebesar 25-30 persen pada industri pengguna gas seperti industri baja, kaca, keramik, keramik, tekstil maupun makanan.

akan sulit meminta penghitungan ulang kontrak untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga gas yang mendadak, karena industri pada umumnya sudah mempunyai kontrak jangka panjang dengan pelanggan.

Asosiasi industri menawarkan kenaikan harga gas dalam empat tahap dan memulainya dengan menaikkan dari harga saat ini senilai 4,3 dolar AS MMBTU (million british thermal units) menjadi 5,82 dolar per MMBTU pada Juli 2012 (naik 15 persen).

Selanjutnya harga bisa dinaikkan menjadi 6,4 dolar MMBTU pada Januari 2013 (naik 11 persen), 7 dolar MMBTU pada Juli 2013 (naik 11 persen) dan terakhir 7,7 dolar MMBTU pada Januari 2014 (naik 11 persen).

Mulai 1 Mei 2012, PGN menaikan harga gas sampai 55 persen, menjadi 10,2 dolar AS per MMBTU dari semula 6,6 dolar AS per MMBTU.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

16 − eight =