SHARE

Satunegeri.com – “Maaf bu, kelihatannya handphone ibu bekas tenggelam di air. Kerusakan mainboard seperti ini harus diganti dengan komponen baru bu, biayanya satu juta rupiah.” Ucapan teknisi itu membuat ruangan service center yang dingin menjadi gerah seketika.

Bagaimana tidak, sang ibu memang baru saja membeli handphone bekas pakai dari seseorang. Saat transaksi terjadi, si penjual tidak mengatakan apa-apa perihal riwayat handphone yang ia pakai. Ternyata dalam hitungan hari handphone tersebut rusak, dan tahulah sang ibu bahwa ia membeli sebuah gadget yang pernah tenggelam.

Dari sudut pandang si penjual, ia tentu saja untung karena handphone hampir rusak itu berhasil terjual dengan harga wajar. Ia sengaja melanggar salah satu rukun jual beli, yaitu dengan menyembunyikan kekurangan pada barang yang dijual padahal ia mengetahuinya.

Jika sudah begini, keuntungan yang tidak seberapa itu hanya fatamorgana, sebab hakikatnya jual beli itu telah membuatnya rugi dalam catatan amalnya di sisi Allah.

* * *

Lain cerita dengan seorang mahasiswa ini yang masih kuliah di sebuah kampus. Ia sering membeli kebutuhan sehari-hari di warung setempat. Padahal jaraknya lebih jauh dibanding kalau ia pergi ke mini market. Harganya pun sedikit lebih mahal.

Tetapi ia tidak merasa rugi dengan selisih harga tersebut. Karena ia tahu bahwa si pemilik warung sudah berusaha menjual dengan harga yang pantas, yang tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan retail raksasa yang memberi bandrol harga yang merusak pasar tersebut.

Dari sudut pandang si mahasiswa ia sebenarnya rugi karena harus mengeluarkan uang lebih banyak. Tetapi kerugian yang tidak seberapa itu hanya fatamorgana, sebab hakikatnya jual beli itu telah membuatnya untung dalam catatan amalnya di sisi Allah.

Bukankah dari perputaran barang tersebutlah si pemilik warung bisa menafkahi keluarganya. Berbeda jika ia menguntungkan pebisnis besar, mungkin saja keuntungannya justru digunakan untuk pesta jamuan minuman keras. Siapa yang bisa menjamin?

* * *

Maka dalam setiap harta yang kita keluarkan, berhitung-hitunglah terlebih dahulu apakah jual beli tersebut benar-benar menguntungkan buat kita? Atau sekedar kelihatan untung saja, padahal hakikatnya rugi. Jika Allah sudah menetapkan sebuah kerugian, adakah seseorang yang mampu mencegahnya?

Serta jangan ragu untuk hal yang kelihatan rugi, padahal justru menguntungkan kita secara hakiki. Sebab keuntungan yang seperti ini justru membawa keberkahan dan menjadi penyebab Allah menambahkan nikmatNya kepada kita.

Apa Komentar Kamu?