SHARE

image-satunegeri

satunegeri.com – Peminat kerajinan berbahan baku aluminium, menurut Wakil Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil `Mataram` (Asperam) Yogyakarta, Pandit Anggoro, telah mencapai Eropa.

Menurut Pandit, Kerajinan berbahan baku aluminium tersebut, saat ini juga menjadi kerajinan alternatif bagi perajin perak di wilayah setempat yang saat ini sepi pesanan.

Keuntungan lainnya adalah, kompetitor perajin aluminium di Yogyakarta maupun di daerah lainnya masih relatif sedikit, karena Sebagian besar masih menggunakan aluminiun sebagai bahan baku pembuatan peralatan rumah tangga saja.

Dengan harga bahan baku aluminium yang lebih murah dibandingkan dengan perak, juga menjadi kemudahan tersendiri. Bila Harga bahan baku perak atau “perak acir” saat ini mencapai Rp9 juta per kg dengan harga jual kerajinan mulai Rp50.000 hingga puluhan juta. Maka untuk aluminium hanya sekitar Rp18.000 per kg dengan harga jual kerajinan mulai Rp20.000 hingga Rp2.500.000.

Hasil kerajinan berbahan baku aluminim dari kotagede tersebut, antara lain adalah miniatur atau replika berbagai kapal, miniatur kereta api, wayang golek, serta berbagai aksesori lainnya, yang sebelumnya hanya diproduksi dengan bahan baku perak (silver).

Pandit sendiri mengaku mendapatkan omset Rp20 juta per bulan dari kerajinan aluminium tersebut. Namun ia mangakui, hingga saat ini di Kotagede masih belum banyak yang menggeluti bisnis kerajinan aluminium itu. Menurut dia, sebagian besar masih terfokus untuk memproduksi kerajinan dengan bahan baku perak atau tembaga saja.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

2 × 3 =