SHARE

image-satunegeri

Satunegeri.com — Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berasal dari 12 universitas yang berbeda menciptakan mobil dengan teknologi kendaraan yang mampu menempuh jarak terjauh dengan menggunakan sumber energi paling sedikit.

Mereka terdiri dari Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Brawijaya, dan lain.

Nantinya mobil-mobil ciptaan mereka ini akan diujikan dalam kompetisi final Shell Eco Marathon Asia 2014 di Manila, Filipina. Ajang kompetisi ini diikuti 109 tim mahasiswa dari negara di kawasan Asia dan Timur Tengah.

“Sebanyak 18 tim mahasiswa dari 12 universitas akan mencipatakan mobil hemat energi” kata Inggita Notosusanto, Communications Manager at Extractive Industries Transparency Initiative. Anak bangsa tersebut merakit sendiri mobil-mobil ini dengan bahan bakar yang ramah lingkungan sehingga hanya menghabiskan satu liter saja.

Inggita mengatakan, 18 mobil ini akan masuk ke dalam kategori mobil prototype dan urban concept. Bahan bakar yang digunakan juga beragam seperti bensil, diesel, FAME (biodiesel), baterai listrik, dan tenaga hydrogen.

“Mobil-mobil ini akan ditandingkan bukan sebagai yang tercepat tapi yang bisa melaju terjauh dengan bahan bakar terendah, ” kata dia

Dia juga mengungkapkan selama ini Shell sedang mencari sumber energi alternatif terutama untuk biodiesel yang memang lebih murah dan ramah lingkungan. Apalagi, kata Inggita, upaya ini juga merupakan mandat dari pemerintah.

“Shell sendiri sudah siap, namun kita tanyakan dulu sama industrinya, apakah mereka siap untuk memproduksi kendaraan dengan bahan bakar biofuel, ” katanya.

Seperti tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Habib Suryo Pratomo dan timnya mahasiswa jurusan Teknik Mesin ini menggunakan biodiesel untuk mobil ciptaannya. Total biaya pembuatan mobil mereka mencapai Rp 50 juta. Mobil ciptaan mereka memiliki kecepatan 600 km/ liter.

“Kita maunya mobil-mobil hemat energi ini baik yang dari biodiesel, listrik, atau lainnya diproduksi massal biar tidak tergantung dengan bahan bakar fosil, sebab di Brazil saja mereka sudah pakai biodiesel sebagai bahan bakar utama, ” kata Habib.

Rata-rata pembuatan mobil hemat tersebut menghabiskan Rp 45-55 juta dan Shell memberi masing-masingnya Rp 20 juta.
Muhammad Fadlur Rahman dan timnya, mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta menciptakan mobil bertenaga listrik dengan kecepatan 120 km/ kwh. Mobil ini menghabiskan dana Rp 45 juta. “Shell memberi setiap tim sebesar Rp 20 juta, dan sisanya kita cari sendiri ke sponsor lain dan bantuan dana dari kampus, ” kata Rahman.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

two × one =