SHARE

Oleh YONVITNER (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB)

Performa pembangunan maritim yang lambat tidak hanya karena gagal paham, tetapi juga tidak ada ideologi yang menjadi platform pembangunan negara maritim Indonesia.

Ideologi negara maritim harus tumbuh sebagai sebuah kekuatan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pertahanan keamanan.Tidak seperti saat ini, seperti tersendat dan tanpa energi yang memadai untuk maju. Keberadaan Indonesia di jalur perdagangan dan pelintasan dunia antara timur dan barat, utara dan selatan, menjadi modal besar bagi bangsa ini untuk maju di bidang maritimnya.Namun, semua itu berlalu tanpa memberikan manfaat lebih bagi kepentingan bangsa.

Setidaknya ada empat butir penting yang harus menjadi fokus Indonesia dalam membangun negara maritim sebagai kepentingan bersama ”national interest”.Pertama, memperkuat perlindungan ”proteksi” terhadap kedaulatan maritim ”sovereignty”.Secara politik, negara maritim Indonesia berada dalam lingkaran kekuatan politik dunia, seperti Tiongkok di utara, Amerika di Pasifik, Australia di selatan, dan India di bagian barat. Indonesia harus berdaulat menetapkan rencana pembangunan maritim tanpa dipengaruhi oleh kekuatan asing tersebut.

Kedua, melakukan pencegahan intervensi kedaulatan maritim Indonesia dalam persaingan global.Mengontrol upaya pihak tertentu yang ingin menjadikan kekuatan maritim sebagai common property dalam ranah internasional.Keberadaan Selat Malaka sebagai jalur dunia harus tetap dalam kontrol Indonesia. Persaingan politik di Laut Tiongkok Selatan antara Tiongkok dan Jepang serta beberapa negara anggota ASEAN dapat berdampak pada upaya ”pendudukan” terhadap perairan Indonesia.

Ketiga, alur laut kepulauan Indonesia sebagai jalur lintas dunia yang berada di perairan Indonesia harus benar-benar aman dari berbagai penyelundupan dan infiltrasi. Saat ini keberadaan alur laut di kepulauan Indonesia rentan terhadap intervensi asing, penyelundupan, dan penyusupan melalui perairan Indonesia.

Keempat, peran yang harus diambil Indonesia adalah turut menjaga keseimbangan politik dunia, ”striking balance”, dan menjadikan Indonesia negara yang bebas dari intervensi asing, berdaulat dan berjaya secara ekonomi, politik dan pertahanan-keamanan adalah platform negara maritim.

Kekuatan bangsa

Beberapa pakar dunia paham betul bahwa kekuatan dan harapan Indonesia sesungguhnya berada di laut.Sumber-sumber ekonomi bangsa Indonesia harus dapat dipenuhi dari industri berbasis sumber daya alam dan jasa- jasa lingkungan kelautan, yang meliputi delapan sektor utama: (1) perikanan tangkap; (2) budidaya laut (mariculture); (3) industri bioteknologi kelautan; (4) pariwisata bahari; (5) pertambangan dan energi; (6) perhubungan laut; (7) industri dan jasa maritim: serta sumber daya nonkonvensional, seperti deep sea water industries, hydrothermal vents, dan benda-benda berharga asal muatan kapal tenggelam (Dahuri dkk, 2015).

Nilai potensi ekonomi dari produk perikanan dan bioteknologi, termasuk derivatifnya, diperkirakan mencapai 82 miliar dollar AS per tahun. Potensi ekonomi wisata laut yang lebih dari 13 miliar dollar AS per tahun (Tridoyo Kusumastanto, 2002), ditambah dengan usaha industri kreatif yang turut mendorong ekonomi wisata dengan kontribusi yang mencapai Rp 104,63 triliun tahun 2007.

Berbagai sumber menyebutkan, lebih dari 70 persen produksi minyak dan gas bumi berada di kawasan pesisir dan lautan. Setidaknya 60 cekungan yang berpotensi mengandung migas (belum termasuk metan), 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 di pesisir, dan hanya 6 di daratan.Potensinya diperkirakan mencapai 11,3 miliar barrel minyak bumi dengan cadangan gas bumi diperkirakan 101,7 triliun kaki kubik.

Kawasan ini juga kaya berbagai jenis bahan tambang dan mineral, seperti emas, perak, timah, bijih besi, dan mineral berat. Belum termasuk potensi cadangan metan dari keuntungan berada di sesar tektonik dan penyatuan lempeng.

Sementara itu, potensi ekonomi perhubungan laut mencapai 14 miliar dollar AS per tahun belum dapat dioptimalkan dari kapasitas yang ada saat ini, yaitu 168,4 juta ton.Sebanyak 90 persen perdagangan dunia dilakukan melalui moda transportasi laut, di mana 40 persen di antaranya melalui perairan Indonesia (INSA, 2012).

Namun, transportasi tersebut belum mampu meningkatkan pergerakan barang dan jasa yang dihasilkan perairan Indonesia.Perkembangan industri pelayaran, menurut INSA (2012), mengalami peningkatan jumlah armada sebesar 84 persen sejak tahun 2005.Tahun 2015 diperkirakan muatan laut Indonesia mencapai 1 miliar ton dengan jumlah kapal niaga mencapai 15.000 unit.Peningkatan arus barang dan jasa akan turut mendorong tumbuhnya ekonomi bangsa.

Ideologi maritim

Potensi dan kekayaan yang besar tersebut ternyata belum berdampak positif Indonesia. Negara kita masih dihadapkan pada kesulitan ekonomi, pengangguran, dan ketimpangan pembangunan ekonomi.Potensi sebanyak 40 juta lapangan kerja bagi penduduk Indonesia belum bisa ditumbuhkan.

Namun, pemerintah terlihat masih ragu, terlihat ambigu, dalam mengambil sikap membangun maritim untuk mengurai proses pembangunan maritim.Padahal, kalau digali, kelemahan sebenarnya adalah tidak jelasnya ideologi (platform) yang dibangun untuk pencapaian output kejayaan maritim.

Untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim sesungguhnya, tesis filosofi Alfred T Mahan masih relevan untuk bangsa Indonesia.AT Mahan menyatakan bahwa ”the sea power is vital to national growth, prosperity and security”, kemudian diterjemahkan sebagai sebuah kekuatan yang mampu mendorong pertumbuhan suatu bangsa, kesejahteraan, dan keamanan.

Untuk menuju ke sana, tentu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri dan setengah hati. Indonesia memerlukan kekuatan dan kepemimpinan yang kuat dengan visi, misi, ide, dan keberanian maritim yang tajam.

Dalam konstelasi politik regional, Indonesia harus mampu membangun kekuatan dan industri pertahanan dalam mengimbangi geopolitik dunia di laut.Dalam konstelasi ekonomi, Indonesia harus mampu memanfaatkan sebaik-baiknya potensi ekonomi yang ada tersebut untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru berbasis sumber daya kelautan dan industri jasa maritim dengan sumber daya manusia Indonesia sendiri.

Untuk menangkap peluang- peluang tersebut, sebagai bangsa maritim kita harus mengawali lompatan ide yang cemerlang. Ideologi (pertahanan keamanan) maritim, ekonomi berbasis sumber daya laut, industri maritim harus tumbuh secara progresif.Kejayaan maritim Indonesia tidak harus menunggu investor asing karena semua itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Ideologi maritim menjadi fondasi penting dalam meletakkan kerangka pembangunan maritim.Menyadari akan pentingnya laut, kandungan dan isinya, bentuk dan sebarannya, maka kita akan bisa merancang langkah yang tepat. Jika tidak, kita akan semakin bingung dengan program maritim dan bekerja tanpa metodologi yang benar untuk membuat maritim kita jaya.

YONVITNER, DOSEN PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN IPB BOGOR

Apa Komentar Kamu?