SHARE

Oleh: Muzayyinatul Hamidia

Mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Malang

KEGIATAN penelitian merupakan sebuah ”kehormatan” sekaligus tanggung jawab bagi para akademisi (baca: Mahasiswa) sebagai kaum intelektual yang well-educated. Selain itu, kegiatan penelitian juga termasuk salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu (i) Pendidikan dan pengajaran (ii) Penelitian dan pengembangan dan (iii) Pengabdian kepada masyarakat.

Akan tetapi, berbeda halnya dengan budaya akademisi di Indonesia. Penelitian masih dianggap sesuatu yang hanya dilakukan untuk memenuhi tugas akhir untuk memperoleh sebuah gelar. Dengan kata lain, kegiatan penelitian hanyalah semata-mata tugas formalitas demi sebuah gelar yang melekat di belakang nama. Bukan merupakan bentuk sumbangsih keilmuan dan tanggung jawab sebagai seorang akademisi.

Rendahnya selera meneliti dalam dunia akademisi ini bisa dilihat dari hasil penelitian Suratmaja (2013) yang menyatakan bahwa berdasarkan data publikasi internasional, Indonesia selama kurun waktu 2001-2010 hanya menghasilkan 7.843 publikasi ilmiah, jauh dibandingkan dengan Singapura, Thailand dan Malaysia yang telah menghasilkan lebih dari 30.000 publikasi ilmiah.

Di tempat yang berbeda, Prof Sangkot Marzuki pada saat acara, ”The Third Bandung International Biomolecular Medicine Conference (BIBMC) september 2014 silam menyatakan bahwa indonesia merupakan negara dengan jumlah peneliti terendah di bandingkan negara Brazil, Cina, India, Singapura dan Turki.

Tentunya ini merupakan sebuah tantangan bagi para akademisi untuk mengejar ketinggalan yang cukup jauh dari negara-negara luar. Lalu bagaimana cara untuk meningkatkan selera meneliti di kalangan akademisi Indonesia? Sebelum kita membahas solusi dari minimnya peneliti dan kecilnya angka penelitian di Indonesia, ada baiknya kita telusuri dulu faktor-faktornya, untuk lebih memahami apa dan bagaimana sistem penelitian di Indonesia.

Faktor pertama minimnya penelitian di indonesia adalah minat baca yang rendah. Dalam melakukan sebuah penelitian, tentunya seorang peneliti dituntut untuk membaca referensi sebanyak-banyaknya, baik berbentuk buku atau laporan hasil penelitian orang lain seperti halnya jurnal penelitian sebagai kajian pustaka terkait penelitiannya. Tanpa banyak membaca, seseorang tidak bisa memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, dan pengetahuan inilah yang akan memicu seseorang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan minat besar untuk meneliti.

Berdasarkan penelitian Irkham (2012) dalam Ramadhan (2013) menyatakan bahwa Indonesia termasuk Negara yang memiliki tingkat budaya baca rendah berdasarkan perbandingan jumlah judul buku baru yang ada di Indonesia dengan negara Vietnam. Dalam per-1 juta penduduk, Indonesia hanya memproduksi 35 judul buku baru. Sedangkan di Vietnam judul buku baru mencapai 187 judul per-1 juta penduduk. Hal ini cukup menjadi bukti bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah.

Faktor yang kedua adalah, kecilnya anggaran riset atau penelitian di Indonesia dibandingkan negara-negara luar. Berdasarkan data statistik dalam Suratmaja (2013) saat ini anggaran riset di Indonesia hanya sebesar 0.9 % dari APBN atau sekitar 0.8 % dari produk domestik bruto (PDB) nasional. Jika dibandingkan dengan anggaran riset negara-negara lain di ASEAN pada tahun 2006, anggaran riset di Indonesia saat ini sangat jauh tertinggal. Berdasarkan data tahun 2006, Singapura telah menganggarkan dana untuk riset sebesar 2.36 % dari PDB nya, sedangkan Malaysia sebesar 0.63 % dari PDB nya dan Thailand sebesar 0.25 % dari PDB nya.

Sehingga tidak heran jika minat para akademisi di Indonesia untuk melakukan sebuah penelitian sangatlah minim. Karena anggaran dana merupakan faktor yang sangat vital dalam kegiatan penelitian.

Faktor yang kedua, adalah regulasi pemerintah yang jelimet, baik dalam hal perizinan dan pengajuan (proposal) untuk anggaran penelitian. Sehingga hal ini juga menjadi faktor penghambat kemajuan dunia penelitian di Indonesia.

Jika dilihat dari beberapa faktor-faktor di atas, pada dasarnya faktor yang paling utama adalah rendahnya minat baca di Indonesia. Rendahnya minat baca merupakan indikator bahwa tingkat kesadaran akan pentingnya keilmuan masih sangat minim di Indonesia.

Ada beberapa alternatif untuk meningkatkan selera meneliti di kalangan akademisi Indonesia. Yang pertama, membudayakan baca sejak usia dini. Dalam hal ini orang tua sangatlah berperan penting untuk melatih anak menyukai kegiatan membaca. Dengan membelikan dan membacakan buku-buku cerita akan melatih anak terbiasa untuk membaca.

Dewasa ini, sudah sangat banyak orang tua yang memilih membelikan gadget dari pada buku untuk anak-anak mereka. Memang tidak salah jika anak dikenalkan pada dunia tekhnologi namun kenyataan di lapangan gadget hanya membuat anak ketergantungan kepada games yang tentunya banyak membuang waktu dengan sia-sia.

Untuk setiap mahasiswa sebagai seorang akademisi ,budaya baca harus dibangun sendiri, tidak ada cara lain selain membiasakan diri untuk membaca, ya tentunya harus diawali dengan ”paksaan”. Upaya membangun budaya baca juga harus dilakukan oleh para dosen kepada mahasiswa, dosen harus menanamkan paradigma baru akan pentingnya pengetahuan yang bisa didapat dengan aktivitas pembaca. Dan pengetahuan inilah yang akan menuntun selera akademisi untuk melakukan sebuah penelitian.

Kesadaran akan pentingnya penelitian ini juga harus dimiliki oleh setiap mahasiswa, seperti yang diuraikan oleh Guru besar Universitas Negeri Malang, Prof. Muhammad Adnan Latief, Ph.D dalam bukunya Research Methods on Language Learning: An Introduction (2013) bahwa tujuan penelitian adalah untuk menemukan pola, keteraturan atau hukum yang terjadi pada sebuah objek. Dan pemahaman terhadap hukum/pola yang terjadi pada objek tersebut itulah yang akan memberikan tambahan pengetahuan dan tambahan kompetensi yang bisa bermanfaat bagi lingkungannya. Inilah yang membedakan antara orang yang berpengetahuan dengan yang tidak, dan yang membedakan antara peneliti dengan yang bukan.

Alternatif lain untuk meningkatkan selera meneliti di kalangan akademisi, adalah upaya pemeritah sendiri dalam mendukung kegiatan riset atau penelitian di Indonesia. Dengan mempermudah regulasi dan meningkatkan anggaran riset atau penelitian, sangat dimungkinkan akan ada banyak peneliti-peneliti muda yang bermunculan di Indonesia.

Sebenarnya pemerintah juga telah mendukung kegiatan penelitian, namun belum optimal. Contohnya adanya program kreativitas mahasiswa yang bisa memicu minat mahasiswa dalam mengenalkan dirinya pada karya ilmiah dan penelitian.

Dari paparan penulis diatas, upaya peningkatan selera meneliti dalam dunia akademisi tidak bisa hanya menuntut pemerintah untuk memperbaiki anggaran riset yang ketinggalan jauh dari negara lain, tetapi hal ini harus dikembalikan kepada para akademisi sendiri. sudahkah kita memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan dan kompetensi diri? Seberapa besarkah kontribusi kita terhadap keilmuan? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Apa Komentar Kamu?