SHARE

cikotok-mesin-produksi-6

Satunegeri.com – Cikotok, nama itu mungkin tidak asing lagi di telinga banyak orang karena semasa sekolah dulu nama Cikotok selalu tercantum dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai tambang emas terbesar yang ketika itu masih bagian dari Jawa Barat.

Tapi coba tanyakan dimana letak Cikotok itu sesungguhnya, mungkin tidak semua orang tahu sekalipun diminta menunjukkannya di peta, alias kenal nama tapi ga kenal muka. Jumlah itu kan lebih sedikit lagi bila ditanya pernahkah anda ke sana?

Cikotok memang bukan destinasi yang populer untuk berwisata. Pasalnya untuk sampai kesana, harus menempuh jarak sekitar 136 km dengan waktu tempuh antara 3-4 jam dari Kota Serang.hanya segelintir orang yang mengetahui dimana letak tambang emas Cikotok, terlebih ingin berkunjung kesana, kecuali hanya orang-orang tertentu saja seperti peneliti atau mahasiswa jurusan tambang atau pun pekerja tambang itu sendiri.

Cikotok mulai dikenal sejak diketemukan adanya indikasi endapan emas pada tahun 1839 oleh pemerintah Hindia Belanda. Persiapan pembukaan tambang emas di Cikotok sendiri baru dimulai pada tahun 1936-1939. Pada tahun 1939 dibangun pabrik pengolahan emas di Pasir Gombong oleh perusahaan swasta Belanda NV. Mijnbouw Maatschappy Zuid Bantam (NV. MMZB). Pada tahun yang sama tambang emas Cikotok dan Cipicung dibuka secara resmi. Produksi tambang terhenti antara tahun 1942-1945 karena pecahnya Perang Dunia kedua dan masa pendudukan Jepang

Jepang mengambil alih tambang emas Cikotok dengan menunjuk perusahaan Jepang bernama Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha dengan tujuan mengambil bijih timah hitam dari Cirotan untuk keperluan perang.

Semasa kemerdekaan antara tahun 1945 hingga tahun 1948, tambang emas Cikotok dikuasai oleh pemerintah RI dibawah Jawatan Pertambangan Pusat Republik Indonesia. Ketika clash ke dua dengan Belanda, tanggal 23 Desember 1948, tambang Cikotok kembali dikuasai oleh Belanda sampai pengakuan kedaulatan pada tahun 1949

Karena keadaan tambang yang rusak berat selama pendudukan Jepang, dan biaya untuk merehabilitasi kembali membutuhkan biaya yang sangat besar maka pada tahun 1950 pertambangan Cikotok dijual oleh NV. MMZB kepada N.V. Perusahaan Pembangunan Pertambangan (N.V. P3)

Selama kurun waktu 1954 hingga 1957 N.V. P3 melakukan rehabilitasi tambang dan pabrik sehingga sejak 1957 pertambangan mulai beroperasi lagi dengan pusat pertambangan di Cikotok dan Cirotan. Pada tahun 1968 PT. Tambang Emas Cikotok berubah menjadi unit pertambangan Emas Cikotok (UPEC) di bawah PN. Aneka tambang yang kemudian menjadi PT. Aneka Tambang.

Namun kini setelah PT Aneka Tambang tidak lagi beroperasi di Cikotok, aset-asetnya lalu dihibahkan pada pemerintah daerah setempat. Sebuah pasar dan terminal Cikotok pun adalah bagian dari hibah tersebut.

Meski demikian, aktivitas tambang di cikotok terus berjalan,  tapi hanya dilakukan oleh masyarakat. Mereka inilah yang dikenal dengan istilah gurandil atau PETI (penambang emas tanpa izin). Para gurandil itu biasanya bekerja berkelompok dan  dibiayai oleh ‘cukong’ tertentu.

Mereka masih sering terlihat hilir mudik berbelanja bahan ataupun mengangkut karung-karung berisi batuan. Bahkan di pasar dan pinggir jalan tak aneh menemukan iklan menerima bulion (bullion = logam mulia hasil pengolahan).

Apa Komentar Kamu?