SHARE

Satunegeri.com – Kadang kita lebih mengutamakan apa yang sudah Allah beri, ketimbang lebih mengutamakan Allah yang sejatinya dia yang telah memberi kita semuanya, dan sesungguhnya tanpa Dia, niscaya kita ga bisa jadi apa-apa.

Lihatlah dulu sebelum kita belum bisa disebut apa-apa. Hanya terbuat dari setetes cairan, hingga pada akhirnya kita menjadi manusia yang mengabaikan Allah, bahkan durhaka terhadap-Nya.

Kita lebih mengutamakan dunia, ketimbang pemilik dunia. Saat dipanggil Allah pun (dengan seruan adzan), kita pura-pura ga tahu, malah menunda panggilan dan lebih mementingkan kerjaan dan perniagaan kita. Coba pikirkan, yang telah memberikan kerjaan dan perniagaan adalah Allah. Malah justru yang pertama kali kita lupakan adalah Allah.

Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah [9] : 24)

Maka berhati-hatilah, Yang membuat kita naik jabatan adalah Allah. Yang membuat kita punya rumah adalah Allah. Yang membuat kita punya perusahaan adalah Allah. Semuanya Allah-lah yang telah memberikan apa pun yang kita butuhkan.

Jangan sampai Allah memberikan kita hadiah karena begitu lamanya kita mengabaikan-Nya. Yaitu hadiah dimana kita terus menerus disibukkan oleh dunia, sampai pada batas waktunya kita tak lagi sempat bertaubat kepada Allah, sujud tersungkur di hadapan-Nya. Na’udzubillahi mindzalik. Semoga kita tidak termasuk menjadi hamba Allah yang merugi. Aamiin…

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

fifteen − eight =