SHARE

Oleh Rahma Widhiasari (Indonesia Resources Studies/IRESS)

Kebutuhan energi dunia diprediksi akan terus meningkat. Hingga saat ini industri energi global masih memiliki ketergantungan besar terhadap energi fosil. Namun demikian, penelitian Boston Consulting Group (BCG) memaparkan bahwa 10 tahun terakhir terjadi pergeseran pemanfaatan energi fosil menuju energi terbarukan dalam tren energi global.

Pergeseran atau transisi pemanfaatan energi ini didorong oleh peningkatan permintaan energi. Peningkatan permintaan energi terjadi karena peningkatan industrialisasi dan jumlah penduduk. Pemenuhan kebutuhan energi akan sangat menentukan keberlanjutan pembangunan ekonomi suatu negara. Di samping itu, penurunan cadangan energi fosil, serta komitmen suatu negara terhadap pengurangan emisi karbon juga mendorong terjadinya transisi energi.

Dalam sektor industri energi internasional terdapat dorongan yang kuat untuk menyediakan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Energi berkelanjutan dapat terwujud melalui pemanfaatan potensi energi baru dan terbarukan.
Sementara itu, Energi Information Administration (EIA) memaparkan bahwa Cina, India, dan Asia Tenggara akan menjadi pemain utama dalam sistem energi global pada 2040. Pertumbuhan ekonomi yang kuat, arus urbanisasi dan industrialisasi di negara-negara tersebut mendorong permintaan energi tumbuh dua kali lipat sejak tahun 2000an.

EIA memperkirakan Cina, India, dan Asia Tenggara juga akan menjadi tiga negara teratas dalam pertumbuhan permintaan energi listrik hingga tahun 2040. Tren energi global tersebut tentunya akan memberikan dampak terhadap Indonesia. Tentu menjadi pertanyaan kita, sejauh mana Indonesia telah menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan-perubahan tren energi global tersebut. Ini diperlukan untuk mempersiapkan strategi pengelolaan energi nasional.

Transisi Energi di Indonesia

Sektor industri energi internasional terus berinovasi untuk mendapatkan jalan keluar atas permasalahan peningkatan kebutuhan energi. Apalagi, harga minyak diprediksi akan kembali naik, sedangkan cadangan energi fosil kian menipis. Pada waktu yang sama dunia energi juga dituntut untuk mampu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas pembakaran energi fosil.

Menghadapi tantangan energi yang kian beragam, terdapat dorongan yang kuat untuk menyediakan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penelitian BCG menyimpulkan bahwa, pergeseran pemanfaatan energi fosil menuju energi terbarukan didorong oleh peningkatan permintaan energi, penurunan cadangan energi fosil serta komitmen suatu negara terhadap pengurangan emisi karbon. Permintaan energi secara masif terjadi di China, India dan Asia Tenggara karena industrialisasi besar-besaran. IEA memprediksi, Cina, India dan Asia Tenggara akan terus tumbuh hingga mencapai 60% pertumbuhan permintaan energi global di tahun 2040.

Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara pun turut mengalami fase transisi energi. Namun diperkirakan hingga beberapa tahun ke depan sumber energi fosil masih didominasi oleh batubara serta minyak bumi dalam penyediaan energi primer di Indonesia.
Namun demikian, peningkatan kebutuhan energi dari sektor industri membutuhkan biaya tinggi ketika harga minyak naik, harga bahan bakar industri senantiasa naik tiap periode. Kemudian, terdapat tuntutan perjanjian Kyoto yang telah diratifikasi untuk mengurangi emisi karbon. Sehingga pemanfaatan energi terbarukan menjadi sebuah tuntutan yang harus dikerjakan.

Oleh karena itu, penting sekali dukungan pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan, yakni melalui kebijakan-kebijakan baru pada bidang energi. Kebijakan yang akan mendorong pertumbuhan penyediaan energi bersih. Dengan harapan, pemanfaatan energi terbarukan akan meningkat perannya dalam bauran energi nasional.

Optimasi Energi Terbarukan

Indonesia telah diidentifikasi oleh banyak kalangan sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang sedang meningkat dari Asia. Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, prestasi dan perkembangan di berbagai sektor. Salah satu kunci untuk mempertahankan momentum ini adalah dengan memastikan pasokan energi untuk terus memberdayakan pertumbuhan ekonomi.

Industrialisasi yang terjadi di Indonesia menuntut kesediaan energi yang cukup. Permintaan energi pun akan terus meningkat signifikan hingga beberapa tahun ke depan. Di tengah-tengah menurunnya produksi migas, pemanfaatan energi berkelanjutan adalah hal mutlak yang harus dipenuhi untuk mendukung perekonomian nasional. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara diprediksi akan mengikuti tren transisi energi, menuju pemanfaatan energi terbarukan. Kondisi ini sebagai konsekuensi dari peningkatan permintaan energi yang disebabkan peningkatan aktivitas ekonomi. Pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai energi berkelanjutan harus sudah mulai dirintis dan menjadi prioritas.

DEN telah menetapkan bahwa hingga 2025, Indonesia menargetkan tercapai elektrifikasi 100 persen di seluruh wilayah Indonesia. Sumber energi untuk elektrifikasi tersebut didukung oleh energi primer yakni batubara, minyak, gas bumi dan energi terbarukan. Pemanfaatan minyak diprediksi akan terus tinggi sebagai bahan bakar transportasi hingga 2040.

Oeh karena itu, secara bertahap pemerintah perlu mengupayakan pengembangan energi terbarukan. Potensi-potensi energi panas bumi, energi angin, energi matahari dan bioenergi yang jumlahnya berlimpah perlu optimasi pemanfaatan. Pemerintah perlu mengkaji potensi energi yang akan diprioritaskan untuk dikembangkan. Dukungan kebijakan fiskal diperlukan untuk menarik investor mengembangkan energi tertentu.

Pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai energi berkelanjutan telah mulai dirintis di Indonesia, dan secara bertahap pengembangan energi terbarukan menjadi prioritas. Sejalan dengan pengembangan energi terbarukan, perlu upaya untuk mengintegrasikan strategi bisnis energi di hulu hingga hilir agar pengembangan bisnis energi berkelanjutan dapat tercapai.

Kebijakan energi Indonesia, yakni PP No.79 Tahun 2014 mendukung pemanfaatan energi terbarukan. Pada masa depan, gas dan energi terbarukan memegang peran dalam bauran energi nasional. Pada 2025, porsi minyak bumi dalam bauran energi ditargetkan menurun dari 46 persen menjadi 25 persen. Kemudian pada 2050, energi terbarukan ditargetkan dimanfaatkan hingga 31 persen dalam bauran energi di Indonesia.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah, BUMN enrgi perlu mengupayakan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. Pengembangan energi terbarukan di Indonesia adalah urgent dan harus didukung seluruh stake holdel. Oleh karena itu diperlukan skenario Green Revolution, untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan. Diperlukan kemajuan teknologi dan peraturan yang dapat mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Diperlukan upaya untuk menurunkan biaya teknologi rendah karbon, yakni dengan dorongan regulasi untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Di sektor listrik, diperlukan upaya peningkatan diversifikasi energi, upaya inovasi dan investasi energi memerlukan dukungan pemerintah dan BUMN.

Apa Komentar Kamu?