SHARE

Oleh : Ustadz Arsal Sjah

Satunegeri.com – Janji adalah harga yang harus tunai. Menepatinya akan meninggikan nilai diri. Sebaliknya, lalai dari janji memurukkan nilai diri.

Jika lalai dari janji pada manusia saja membuat kita buruk dalam pandangan manusia tersebut, apalah lagi jika lalai dari janji pada Allah.

Jika lalai dari janji pada manusia saja membuat perasaan bersalah terdongkrak tinggi, apalah lagi jika lalai dari janji pada Allah.

Jika lalai dari janji pada manusia saja membuat kita ingin melakukan apa saja untuk membayarnya sebagai permohonan maaf, apalah lagi jika lalai dari janji pada Allah.

Terlebih lagi janji pada Allah itu selalu kita ikrarkan di hadapan-Nya setiap hari berulang-ulang,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
(al An’am: 162)

*Tak malukah jiwa ini jika disebut si pendusta yang ingkar janji? Padahal itulah di antara tanda adanya kemunafikan? 😭
Atau jiwa ini sudah bebal dan wajah ini sudah tebal hingga rasa malu tak mampu lagi melekat padanya?

Jika seseorang masih memiliki harga diri, maka permintaan maaf bukan menjadi cara lain mentolerir kelalaiannya. Maaf yang didapat tak menjadi obat bagi rasa bersalahnya.

Tapi…
Meng-iqob (penghukuman) diri menjadi analgesik bagi hati dan cambuk bagi jiwa dari keburukan yang tak pantas dibiasakan. Karena Mu’aqobah adalah pendidik terbaik bagi jiwa yang mengantarkannya sampai ke jenjang muhsinin.

Ampuni aku, yaa Rabbi…😭

#catatanharianramadhan

Apa Komentar Kamu?