SHARE

ikan

 

Satunegeri.com — Nilai tambah perikanan Indonesia masih rendah. Indonesia dinilai belum mampu memanfaatkan pertumbuhan pasar produk perikanan yang bernilai tambah ke Uni Eropa. Setiap tahun, Indonesia terindikasi kehilangan potensi ekonomi sedikitnya 16 juta dollar AS akibat produk yang dijual masih gelondongan sehingga harga jual tidak memadai.

Padahal, permintaan produk perikanan dari Uni Eropa semakin meningkat, khususnya produk perikanan bernilai tambah. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut Hutagalung, di Jakarta, Senin (12/5). Kondisi itu pun tecermin dari Seafood Expo Global, di Brussels, Belgia, 6-8 Mei 2014.

“Dengan nilai tukar Rp 11.500 per dollar AS, potensi ekonomi yang hilang setiap tahun itu sekitar Rp 184 miliar,”katanya.

Menurut Saut, pameran yang diikuti 145 negara itu memperlihatkan optimisme bahwa pasar Uni Eropa akan terus menyerap produk perikanan Indonesia, sepanjang pasokan cukup. Permintaan pasar Uni Eropa juga semakin mensyaratkan keamanan pangan dan penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Meski demikian, nilai tambah perikanan yang didapat Indonesia masih rendah. Contohnya, produksi tuna dan cakalang 660.000 ton per tahun, dengan 120.000 ton di antaranya diproduksi dengan alat tangkapan pancing atau huhate (pole and line) yang ramah lingkungan.

Dari 120.000 ton tuna hasil tangkapan huhate, hanya 40.000 ton yang mendapat nilai jual lebih tinggi. Sebanyak 80.000 ton lainnya dijual dengan harga umum. Padahal, harga tuna hasil huhate seharusnya bernilai tambah 200-400 dollar AS per ton. Dengan demikian, terdapat kehilangan nilai ekonomi setidaknya 16 juta dollar AS per tahun.

Permintaan pasar Uni Eeropa terhadap produk tuna dan cakalang bernilai tambah semakin meningkat. Namun, sekitar 60 persen dari total ekspor oleh pelaku usaha masih dalam bentuk gelondongan. Selain itu, sebagian pelaku usaha mengekspor ikan melalui pihak ketiga.

Padahal, produk tuna olahan yang paling sederhana, yakni tuna rebus (pre cooked loin) memiliki nilai tambah sekitar 12-15 persen dibandingkan produk gelondongan.

”Ada informasi yang putus. Kita banyak kehilangan nilai tambah produk perikanan karena pelaku usaha tidak mendapatkan informasi dengan benar,” ungkap Saut.

Indonesia juga masih terganjal tarif bea masuk tinggi yang mencapai 22-24 persen. Bea masuk ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga produsen perikanan, seperti Thailand dan Vietnam, yang dinilai lebih tanggap mengupayakan penurunan tarif bea masuk.

Uni Eropa saat ini merupakan negara tujuan utama keempat ekspor perikanan, setelah Amerika Serikat, Jepang, dan ASEAN. Sepanjang tahun 2013, total ekspor perikanan ke Uni Eropa sebesar 100.500 ton atau senilai 533,5 juta dollar AS. Dari jumlah itu, ekspor tuna yang terbesar, yakni 41.600 ton atau senilai 180,3 juta dollar AS. Tahun ini, ekspor perikanan ke Uni Eropa ditargetkan naik 10 persen menjadi 590 juta dollar AS.

Saut menambahkan, Indonesia juga menghadapi tantangan persyaratan pasar yang semakin tegas terkait keamanan pangan dan cara penangkapan yang ramah lingkungan guna mendorong keberlanjutan perikanan. Pasar Uni Eropa menghendaki komoditas ikan tuna yang masuk ke negara-negara Uni Eropa merupakan produk hasil tangkapan dengan alat huhate.

Sementra itu, Ketua Asosiasi Tuna Pole and Line Yanti Djuari mengemukakan, penangkapan tuna dengan alat tangkap huhate semakin terdesak akibat benturan wilayah tangkapan dengan kapal pukat cincin (purse seine) pelagis kecil. Nilai jual tuna yang dihasilkan alat tangkap huhate cenderung disamakan dengan harga tuna umum. Padahal, biaya operasional dengan alat tangkap huhate bisa dua kali lipat dibandingkan dengan pukat cincin.Harga tuna hasil tangkapan alat huhate idealnya sebesar 2.500 dollar AS per ton.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

14 + 14 =