SHARE

Oleh. Rahma Widhiasari (Indonesia Resources Studies/IRESS)

Energi panas bumi adalah energi masa depan Indonesia. Hal ini karena energi panas bumi potensinya berlimpah di Indonesia. Bahkan dapat dipetakan pada posisi geografi Indonesia dengan “ring of fire” adalah lokasi-lokasi potensi panas bumi nasional. Berdasarkan data ESDM, terdapat sekitar 251 lokasi wilayah yang memiliki energi panas bumi. Kemudian, telah diketahui bahwa 70 dari 251 lokasi merupakan lapangan yang mempunyai reservoir berentalphi tinggi (temperatur dan tekanan tinggi) dengan potensi sekitar 20 ribu MW. Sedangkan sisanya 7 ribu MW merupakan lapangan yang mempunyai reservoir berentalphi sedang dan rendah.

Energi panas bumi dapat dimanfaatkan sepanjang tahun, tidak dipengaruhi oleh iklim seperti halnya energi surya atau angin. Panas bumi memiliki banyak kelebihan. Energi ini bersifat ramah lingkungan karena diambil dari panas bumi, sehingga tidak menghasilkan polusi.

Energi panas bumi adalah energi bersih lingkungan. Setelah Indonesia meratifikasi Kyoto Protokol, keunggulan lingkungan energi panas bumi yang selama ini belum diapresiasi secara ekonomi, kini memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai keekonomiannya. Misalnya dengan memanfaatkan Clean Development Mechanism (CDM) produk Kyoto Protokol.

Mekanisme CDM ini menetapkan bahwa negara maju harus mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 5,2% terhadap emisi tahun 1990, dapat melalui pembelian energi bersih dari negara berkembang yang proyeknya dibangun setelah tahun 2000. Energi bersih tersebut termasuk panas bumi.

Sebagai Energi baru dan terbarukan, panas bumi dapat diandalkan sebagai pasokan jangka panjang. Beberapa PLTP di Itali masih berproduksi setelah 100 tahun, sedangkan di Selandia Baru dan Amerika Utara masih beroperasi setelah 50 tahun. Kamojang sampai saat ini sudah berproduksi selama 22 tahun. Dalam pengoperasiannya, penggunaan lahan PLTP relatif kecil dan tidak tergantung musim.

Disamping pembangkit tenaga listrik, energi ini dapat dimanfaatkan untuk pengeringan hasil pertanian, pengawetan hasil perikanan dan parawisata. Energi panas bumi diharapkan dapat memberi kontribusi yang signifikan terhadap bauran energi nasional di masa mendatang. Potensi energi geothermal Indonesia sangat besar yaitu sebesar 29 GW yang tersebar di lebih dari 300 lokasi dan merupakan 40% cadangan geothermal dunia. Padahal indonesia sudah memulai bisnis energi geothermal sejak 30 tahun yang lalu.

Energi panas bumi diharapkan dapat menjadi sumber listrik yang mendukung capaian pertumbuhan ekenomi nasional. Pengembangan panas bumi sangat strategis bagi ketahanan energi nasional. Panas bumi diprediksi mampu mendukung elektrifikasi nasional. Kebutuhan pembangkit tenaga listrik masih akan tumbuh dengan cepat sejalan dengan kebutuhan untuk menaikan rasio elektrifikasi dari 80% menjadi 90% pada tahun 2020 (KEN). Pengembangan panas bumi cocok karena dapat dikembangkan secara bertahap sesuai keekonomiannya.

Sementara itu, dalam industri energi global, industri panas bumi tumbuh signifikan, dengan pertumbuhan mencapai 4-5 persen. Pada 2013, perkembangannya bahkan sangat signifikan, seiring dengan beroperasinya pembangkit-pembangkit baru di Amerika Serikat, Filipina dan Eropa. Negara-negara di Afrika Timur, seperti Kenya dan Ethiopia, juga tengah memacu penyelesaian proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Bahkan, di beberapa negara, pengembangan industri panas bumi tersebut mampu memenuhi separo kebutuhan listrik negaranya.

Di Indonesia, potensi panas bumi sangat besar. Potensinya di seluruh wilayah dapat menghasilkan listrik sebesar 30 ribu megawatt atau setara dengan 40 persen dari potensi seluruh dunia. Listrik sebesar itu cukup untuk menerangi enam kota seukuran Jakarta. Namun, potensi panas bumi belum optimal pemanfaatannya, yakni baru 1.810 MW sekitar 13 persen yang dimanfaatkan.

Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama pemerintah memiliki komitmen yang sama untuk mengambangkan energi panas bumi. Potensi panas bumi nasional sangat besar, penyebaran manisfestasi panas bumi terdapat hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Telah diketahui bahwa 70 dari 251 lokasi merupakan lapangan yang mempunyai reservoir berentalphi tinggi (temperatur dan tekanan tinggi) dengan potensi sekitar 20 ribu MW. Sedangkan sisanya 7 ribu MW merupakan lapangan yang mempunyai reservoir berentalphi sedang dan rendah.

Tantangan Pengembangan Panas Bumi

Pengembangan energi panas bumi di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait harga, hutan konservasi, dan masalah sosial di lapangan. Harga penyediaan energi geotheral menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan energi geothermal. Listrik dari energi geothermal memiliki harga yang lebih tinggi dan harus bersaing dengan listrik dari energi fosil yang harganya lebih murah. Juga terjadinya masalah-masalah sosial di lapangan saat dilakukan pengembangan energi geothermal. Peningkatan keekonomian energi geothermal menjadi tantangan yang perlu solusi bersama. Komitmen dari pemerintah sangat dibutuhkan, karena harga listrik panas bumi merupakan domain pemerintah, tidak seperti harga minyak yang tergantung pasar.

Namun demikian, pemerintah telah memberikan dukungan regulasi bagi pengembangan panas bumi. Telah tesedia perangkat perundang-undangan sektor energi seperti UU 15/2005 tentang ketenaga listrikan, UU 27/2003 tentang panas bumi, serta KEN 2003-2020. Semua regulasi tersebut telah membuka perhatian terhadap isu lingkungan dan pengembangan yang berkelanjutan. Khusus dibidang panas bumi telah disusun Blue Print dan Roadmap pengembangannya.

Dalam roadmap Pemerintah menetapkan rencana peningkatan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia secara bertahap, dari 807 Mwe pada tahun 2005 hingga 9500 MWe pada tahun 2025, yaitu 5% dari bauran energi tahun 2025 atau setara 167,5 juta barrel minyak. Pada saat ini kapasitas pembangkit listrik panas bumi Indonesia baru mencapai 1.810 MW. Pada 2017, dari target kaasitas terpasang pemerintah (1.838,5 MW), PT Pertamina Geothermal Energy (PT PGE). telah berkontribusi 34 persen, yakni sebanyak 617 MW panas bumi dikembangkan PGE. Indonesia diperkirakan mempunyai sumberdaya panas bumi dengan potensi listrik sebesar 27.510 MWe, sekitar 30-40% potensi panas bumi dunia, dengan potensi cadangan 14.172 MWe, terdiri dari cadangan terbukti 2.287 MWe, cadangan mungkin 1.050 MWe dan cadangan terduga 10.835 MWe. Pengembangan panas bumi hingga saat ini didominasi oleh perusahaan nasional, yaitu PGE.

Pada saat ini PT PGE merupakan perusahaan panas bumi yang memiliki hak pengelolaan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi paling banyak di Indonesia, yaitu 15 (lima belas) WKP. Dari 15 (lima belas WKP), ada 3 (tiga) WKP dikerjasamakan oleh PT PGE dengan mitra asing. Disamping oleh PT PGE, ada beberapa WKP Panas Bumi yang hak pengelolaannya ada pada PT PLN. Peningkatan produksi dan capacity building melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan penguasaan teknologi harus terus dilakukan agar kemandirian di bidang panas bumi dapat diwujutkan. Untuk mencapai target 2025, Pemerintah telah melelang 18 WKP baru. Untuk mencapai target 2025 masih banyak WKP lain yang akan dilelang karena hasil eksplorasi pendahuluan mengindikasikan adanya 255 geothermal area di Indonesia yang sangat potensial untuk pembangkit listrik.

Mengingat potensi panas bumi dunia yang terbesar terdapat di Indonesia dan sifat sistem panas bumi yang sangat site specific, sudah semestinya pengembangan lapangan panas bumi Indonesia dikembangkan oleh perusahaan nasional dengan menggunakan tenaga ahli Indonesia yang diakui kepakarannya tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia Internasional.
Pengembangan usaha panas bumi nasional masih terkendala masalah investasi yang besar di awal. Pengembangan panas bumi sangat padat modal terutama pada tahap awal yaitu tahapan eksplorasi yang berdampak kepada aspek pembiayaan dan nilai dari keseluruhan proyek serta penentuan harga steam yang diperoleh.

Seperti semua eksplorasi sumberdaya alam, eksplorasi panas bumi juga beresiko tinggi. Keterdapatan reservoar panas bumi dibentuk oleh tatanan dan kondisi geologi yang komplek.Tidak ada garansi bahwa pemboran eksplorasi atau pemboran produksi akan mendapatkan fluida panas yang ditargetkan. Pengembang harus siap baik mental maupun finansial menerima eksplorasi sebagai kegiatan yang mengandung resiko.

Berbeda dengan energi fosil, untuk pembangkit listrik bahan bakarnya telah tersedia, kegiatan hanya terfokus pada tahapan pembangkitan tenaga listrik. Namun dalam waktu jangka panjang biaya pengembangan panas bumi akan lebih kecil karena pasokan energi terus berlangsung, tidak demikian halnya dengan jenis energi lain yang harus didatangkan dari tempat lain.

Sementara itu, harga jual listrik atau uap dari pembangkit listrik tenaga panas bumi saat ini secara keekonomian belum begitu menarik bagi investor. Untuk pengembangan lapangan baru, bantuan pendanaan melalui CDM perlu diusahakan untuk membantu biaya investasi awal. Disamping itu, perlu jaminan pembelian setelah uap ditemukan. Hal ini mengingat panas bumi bukan komoditi yang dapat diekspor tetapi hanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan domestik.

Apa Komentar Kamu?