SHARE

Dalam sidang lanjutan dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (10/1), Pedri Kasman yang menjadi saksi dalam persidangan tersebut mengatakan mengetahui adanya dugaan penistaan agama tersebut pertama kali dari video Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, Pedri mengaku melihat banyak akun lain terkait video tersebut. “Yang pertama dari Pemprov DKI,” kata Pedri.

Menurutnya, isi seluruh akun video yang ditontonnya memiliki kesamaan. Terutama saat bagian ucapan Ahok yang diduga menistakan agama. “Setelah melihat video, memastikan video itu asli, men-download dan menjadikan alat bukti,” ujar Pedri yang merupakan Sekretaris Pemuda Muhammadiyah.

Selain itu, Irena Handono yang juga menjadi saksi, menuding bahwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melakukan kampanye terselubung di tengah kunjungan kerjanya ke Kepulauan Seribu pada September tahun lalu. Dalam pidato tersebut, Ahok menyitir Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51.

Menurut Irena, dengan seragam dinas yang dikenakan Ahok, seharusnya Ahok tidak usah mengatakan hal tersebut. Apalagi dengan mengutip surat Al-Maidah ayat 51. Irena menilai Ahok menggunakan cara terbalik dengan meminta orang agar tidak memilih dirinya jika takut program kerjanya tidak berjalan.

Namun, Ahok membantah pernyataan Irena tersebut. Ahok membantah dirinya menjadi seorang pemakai ayat kampanye terselubung agar orang memilih dirinya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta.

Menurut Ahok, dalam kesempatan tersebut ia merayu agar ibu-ibu yang ada di Kepulauan Seribu untuk tetap mengikuti program budi daya ikan kerapu, meskipun nantinya ia tidak menjadi gubernur terpilih. Ahok mengaku dirinya meminta agar masyarakat tidak takut mengambil tawaran tersebut. Pasalnya, baru ditemukan satu nelayan yang berhasil panen ikan kerapu saat ia berkunjung ke Kepulauan Seribu.

Apa Komentar Kamu?