SHARE

medium_28produksicpo

Satunegeri.com – Perdagangan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku bahan bakar nabati diyakini akan meningkat, seiring dengan Pembatasan pembelian bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar yang dilakukan pemerintah.

Pasalnya, menurut Kepala Dinas Perkebunan Riau, Zulher, selama ini CPO menjadi bahan baku campuran untuk biodiesel. “Pembatasan konsumsi solar akan menggenjot penggunaan BBN sebagai pengganti solar. Ini tentu akan menguntungkan pelaku industri CPO sebagai bahan bakunya,” katanya di Pekanbaru, Kamis (7/8).

Saat ini, produksi CPO mencapai 30 juta ton per tahun, yang 20 juta ton per tahun diantaranya diekspor.1 juta ton per tahun CPO yang diproduksi di dalam negeri juga dapat diolah menjadi sekitar 20.000 barel biodiesel per hari.

Selain itu, kebijakan pembatasan konsumsi solar juga dapat meningkatkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Alasannya, kebijakan tersebut memperluas pasar kelapa sawit di dalam negeri untuk diolah menjadi CPO dan BBN.

“Semakin bergairahnya industri hilir kelapa sawit, seperti untuk sumber energi pengganti BBM akan meningkatkan kembali harga TBS yang sempat jatuh sepanjang semester pertama tahun ini,” ujarnya.

Untuk periode 6-12 Agustus tahun ini sendiri tim penetapan harga TBS mematok harga yang lebih murah dibandingkan periode pekan sebelumnya. Untuk TBS kelapa sawit yang berusia 10 tahun ke atas dipatok Rp1.768,79 per kilogram, lebih rendah Rp44,55 per kilogram dari periode sebelumnya yang mencapai Rp1.813,34 per kilogram.

Sebelumnya, PT Pertamina (persero) menyebutkan hanya akan menjual solar pada jam 08.00 hingga 18.00 waktu Indonesia barat di 21 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di Riau.

Mulai 1 Agustus 2014, lima SPBU di Rokan Hulu akan melaksanakan kebijakan tersebut, kemudian empat SPBU di Indragiri Hilir, masing-masing tiga SPBU di Dumai, Indragiri Hulu, dan Kampar, serta dua SPBU di Kuantan Singingi, dan satu SPBU di Rokan Hilir.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

12 − three =