SHARE

image-satunegeri

Satunegeri.com — Pemerintah masih mengoptimalkan sektor perikanan. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, industri perikanan nasional sejatinya memiliki prospek yang sangat bagus. Namun, pengoptimalan pemanfaatan potensinya masih kurang sehingga perlu ditingkatkan.

”Sebagai gambaran, luas indikatif potensi lahan pengembangan budidaya laut nasional 8,36 juta hektar. Namun, yang dimanfaatkan untuk usaha budidaya laut baru sekitar 1 persen. Sedangkan wilayah daratan kita yang termanfaatkan kurang dari 30 persen dari potensi atau kapasitas,” ujar Sharif.

Permasalahan mengemuka dalam acara Konsolidasi Nasional Budidaya Air Payau dan Laut Tahun 2013, di Surabaya, Jawa Timur, Senin (25/11). Kegiatan ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, asosiasi produsen pakan ikan, Forum Komunikasi Pembenihan Udang, dan petambak.


Luasnya potensi yang belum dimanfaatkan itu menuntut kita bekerja keras dan cerdas, di antaranya mendorong masuknya investor dalam negeri dan investor asing. Sayang, Sharif enggan merinci nilai investasi di sektor perikanan dan pertumbuhannya setiap tahun.

"Produksi ikan budidaya saat ini mencapai 9,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi ikan hasil tangkapan dari laut hanya 5-6 juta ton per tahun," kata Sharif. Capaian produksi itu menempatkan Indonesia di bawah China yang produksinya mampu mencapai 40 juta ton per tahun.

Bahkan, sudah tiga tahun hasil tangkapan nelayan stagnan dan cenderung turun. Penyebabnya adalah cuaca yang tidak menentu sehingga menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk perkembangbiakan dan pertumbuhan ikan di laut.

"Rendahnya produktivitas industri perikanan laut mendorong pemerintah menggenjot produksi perikanan budidaya," katanya. Pihaknya optimistis usaha perikanan budidaya prospektif karena harga sejumlah komoditas yang terus naik seiring makin terbukanya peluang pasar.

Sharif berpendapat, kinerja industri perikanan di Tanah Air masih perlu ditingkatkan karena investasinya hingga saat ini sangat minim. Di sisi lain potensi yang sudah tergarap belum mampu berkembang maksimal karena terkendala minimnya ketersediaan benih dan tingginya biaya pakan.


Sementara itu, Wakil Ketua Forum Komunikasi Pembenihan Udang Vaname Hery Winata mengatakan, hingga saat ini masalah ketersediaan benih, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, belum memadai. Sebagai contoh benih udang vaname. Kemampuan produksi pengusaha pembenihan hanya 1 miliar ekor per bulan, sedangkan kebutuhan mencapai 1,5 miliar ekor per bulan.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

four × 2 =