SHARE

Komisaris PT Pertamina (Persero), Susilo Siswoutomo mengatakan, kemiri sunan bisa menjadi bioenergi untuk solusi energi masa depan dalam pengadaan biodiesel nasional.

 

“Karena kemiri sunan memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan sumber biomasa lainnya untuk bioenergi dan tidak berkompetisi dengan program swasembada pangan pemerintah,” kata Komisaris PT Pertamina (Persero) yang juga menjabat sebgai Wakil Menteri ESDM RI, Susilo Siswoutomo saat `workshop` rehabilitasi lahan terdegradasi dengan tanaman penghasil energi di Fakultas Kehutanan IPB Dramaga Bogor, Kamis.

 

Ia mengatakan, karena kemiri sunan dapat ditanam dilahan kritis sub marginal yang tidak bisa sama sekali ditanam swasembada pangan, hasil energi/ha lebih tinggi, usia mencapai 100 tahun dan bisa menerima tanaman tumpangsari. Bahkan daun kemiri sunan bisa menyuburkan tanah dan relatif lebih banyak menyerpa CO2.

 

Pertamina sudah mulai melakukan penanaman kemiri sunan dengan menggunakan rekayasa bibit dan pupuk hayati seperti yang telah dikembangkan di Balitri-Pakuwon satu hektare yang ditanam kemiri sunan diharapkan bisa menghasilkan 10 ton biodisel pertahun.

 

“Jika 12 juta hektare atau 20 persen dari lahan kritis dan nonproduktif di Indonesia ditanam kemiri sunan. Agar Indonesia dapat memproduksi biodisel dari kemiri sunan setara dengan 2,5 juta barel perhari,” katanya.

 

Ia mengatakan diperlukan strategi yang komprehensif dan terpadu untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan kemiri sunan sebagai sumber biodisel. Karena penaanaman kemiri sunan harus berkaitan dengan pengembangan aktifitas ekonomi baru untuk masyarakat pedesaan.

 

“Kemiri sunan harus bisa menyerap tenaga kerja di pedesaan,”katanya.

 

Dalam upaya penyerapan tenaga kerja, Pertamina dapat ikut berpartisifasi dalam meningkatkan peluang bisnis baru dalam pengembangan EBT. Serta mendukung kebijakan pemerintah terkait dengan ketahan energi dan ekonomi nasional.

 

“Pastinya, Pertaminan bisa ikut serta dalam pembangunan ekonomi kerakyatan,” katanya.

 

Ia mengatakan, Indonesia saat ini sudah masuk krisis pangan, energi dan air. Kita hanya bisa teriak-teriak saja tetapi tidak pernah melakukan apa-apa untuk menjaga agar tiga krisis tersebut bisa dicegah dengan pengembangan energi alternatif.

 

“Jangan selalu salahkan pemerintah karena menjaga ke tiga energi tanggung jawab kita bersama,” katanya.

 

Ia mengatakan, tanaman kemiri sunan sebagai bioenergi solusi energi masa depan dapat tercapai. Belajar dari pengalaman masa lalu maka tanaman kemiri sunan harus lebih bermanfaat untuk tercapainya pengadaan biodiesel nasional.

 

“Kami menjamin tanaman kemiri sunan bisa menghasilkan biodisel dalam jangka waktu empat tahun,” katanya.

 

Ia mengatakan, solusi pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam substitusi penggunan minyak adalan `green biodisel`. Karena Indonesia mempunyai potensi besar untuk memproduksi BBN dari sumber biomasa seperti kelapa sawit, kemiri sunan, nyamplung, tebu, nira dan lainnya.

 

“Jika pengembangan BBN berhasil bisa memberikan multi manfaat tidak hanya menguatkan ketahan energi nasional,” katanya.

 

Ia mengatakan, untuk tercapainya BBN maka sinergitas antarpihak harus lebih baik. Lembaga penelitian sangat diperlukan untuk membuat perencanaan yang detil dan komprehensif. Aspek perekonomian siap memberikan subsidi sebagai ongkos pembangunan ekonomo kerakyatan dan reboisasi lahan kritis dalam program pengembangan BNN.

 

“Kami berharap lahan nonproduktif dan hutan produktif bisa dimanfaatkan sekitar 40 persen untuk pengembangan kemiri sunan sebagai energi alternatif nasional,”katanya.

 

Saat ini, kata dia, Pertamina turut berpartisifasi dalam pengembangan BBN. Melalui Direktorat Energi baru dan Terbarukan bisa menangani pengembangan bisnis Pertaminan dalam bidang energi baru dan terbarukan termasuk pengembangan bisnis BBN. Pertamina juga memiliki unit R&D sebagai unit penelitian pengembangan BBN serta berpartisipasi dalam penanaman pohon melalui Pertaminan Fondation dan program CSR.

 

“Saat ini Pertamina sudah bekerja sama dengan lemba penelitian Balitri, IPB, BPPT, Lemigas dan lainnya yang bermanfaat untuk mengakselerasi pengembangan BBN termasuk biodisel dan pengembangan perekonomian masyarakat desa,” katanya.

 

Ia mengatakan melalui tanaman kemiri sunan dan BBN lainnya bisa mengurangi permasalahan tatangan yang dihadapi migas nasional. Karena turunnya produksi minyak dari 800 ribu barel perhari tahun 2014 sudah nyata dan bisa dipastikan menjadi 620 ribu barel perhari tahun 2020.

 

Konsumsi BBM diperkirakan bisa naik berkisar 2,1 juta barel perhari tahun 2020dengan asumsi pertumbuhan 3,5 persen pertahun.

 

“Impor minyak akan naik 1 juta bbl/hari pada2015 menjadi 1,5 juta bbl/hari tahun 2020dan sudah bisa pasti menjadi beban defisit neraca perdagangan nasional,”katanya.

 

Ia mengatakan, produksi gas juga diperkirakan menurun mulai tahun 2019dengan melonjaknya konsumsi gas domestik terkait dengan program listrik 35 gw. Maka mulai tahun 2018 Indonesia akan mengimpor LNG dalam volume yang signifikan.

 

“Tentunya program Pertamina Fondation `CSR` akan bekerja sama demi mewujudkan green disel untuk kesejahteran masyarakat,” katanya. Jadi tidak perlu ragu dalam mengembangkan tanaman kemiri sunan untuk solusi energi masa depan.

Apa Komentar Kamu?