SHARE

Oleh. Rahma Widhiasari (Indonesian Resources Studies)

Perubahan iklim menjadi isu yang berkembang di Indonesia, hal ini terutama dikarenakan dampak yang ditimbulkan pada manusia. Dampak perubahan iklim terhadap sektor perikanan merupakan salah satu contoh dari sumberdaya hayati yang berkaitan dengan konsumsi makanan dan aktivitas manusia

.

Sektor kelautan, pesisir, dan perikanan merupakan sub sektor yang sangat banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim. Jika diidentifikasi, salah satu fenomena perubahan iklim yang berkaitan dengan perikanan dan kelautan adalah fenomena El Nino/Southern Oscillation (ENSO) yang dikenal dengan istilah El Nino. El Nino adalah salah satu fenomena interaksi global laut dengan atmosfir yang berakibat adanya fluktuasi suhu permukaan air laut. Kondisi akibat El Nino dengan kenaikan muka air laut mengakibatkan menurunnya produksi primer di laut.

Penurunan produksi primer laut akan berpengaruh terhadap produktivitas biota-biota laut pada rantai makanan di atasnya. Ketidakseimbangan salah satu komponen rantai makanan akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan ekosistem ini akan berdampak pada penurunan produksi perikanan, khususnya hasil tangkap perikanan.

Produksi perikanan pada trend global cenderung menurun, data FAO Fisheries and Aquaculture (2014) adalah 82,6 juta ton pada tahun 2011 dan 79,7 juta ton pada tahun 2012. FAO (2014) menyatakan bahwa, Northwest dan Western Central Pacific adalah daerah dengan tangkapan tertinggi dan terus berkembang mengalami penurunan produktivitas

Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, sektor perikanan di Indonesia berkembang 8.37% pada basis year-on-year (y/y) pada kuartal ketiga tahun 2015. Ekspor produk perikanan Indonesia tercatat sebesar 244,6 juta US dollar pada Oktober 2015, sedangkan impor hanya mencapai 12,5 juta dollar AS.

Pertumbuhan sektor perikanan di Indonesia terutama didukung oleh peningkatan produksi ikan hasil tangkapan dan hasil budidaya. Menurut data dari BPS, produksi ikan hasil tangkapan naik 5,03% (y/y) menjadi 4,72 juta ton (khususnya tuna), sedangkan produksi ikan hasil budidaya naik 3,98% (y/y) menjadi 10,07 juta ton hingga kuartal ketiga tahun 2015. Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia menetapkan target pertumbuhan produksi ikan hasil tangkapan sebesar 2,4% menjadi 6,45 juta ton pada tahun 2016.

Disamping itu, potensi lestari sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia), yang terbagi dalam sembilan wilayah perairan utama Indonesia. Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton per tahun atau sekitar 80 persen dari potensi lestari, dan sudah dimanfaatkan sebesar 4,7 juta ton pada tahun 2004 atau 91.8% dari JTB.

Sedangkan dari sisi diversivitas, dari sekitar 28.400 jenis ikan yang ada di dunia, yang ditemukan di perairan Indonesia lebih dari 25.000 jenis.

Data di atas menunjukkan bahwa sektor perikanan merupakan sektor strategis. Industri di sektor perikanan memiliki keterkaitan dengan sektor-sektor lainnya, sektor perikanan perlu dikembangkan untuk meningkatkan daya saing nasional. Indonesia memiliki keunggulan (comparative advantage) yang tinggi di sektor perikanan sebagimana dicerminkan dari potensi sumber daya yang ada. Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan sektor perikanan, diantaranya adalah fenomena perubahan iklim yang berdampak pada penurunan produksi primer.

Kementerian Lingkungan Hidup (2007) menyatakan bahwa perubahan iklim dan dampaknya merupakan masalah yang kompleks dan dinamis. Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change-IPCC (2007), perubahan iklim telah memberikan efek yang sangat nyata, hal ini terlihat sejak tahun 1850 tercatat 11 dari 12 tahun terpanas terjadi pada kurun waktu 12 tahun. Kenaikan temperatur ini merupakan total dari periode 1850-1899 hingga 2001-2005 yaitu 0,74°C.

Peristiwa kenaikan suhu laut telah menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Muka air laut rata-rata global telah meningkat dengan laju rata-rata 1,8 mm per tahun dalam rentang waktu antara tahun 1961 sampai 2003. Kenaikan total muka air laut yang berhasil dicatat pada abad ke-20 sekitar 0,18 m . Laporan IPCC juga menyatakan bahwa kegiatan manusia ikut berperan dalam pemanasan global sejak pertengahan abad ke-20. Pemanasan global akan terus meningkat dengan percepatan yang lebih tinggi pada abad ke-21 apabila tidak ada upaya penanggulangannya.

Peningkatan temperatur air laut khususnya saat El Nino 1997 telah menyebabkan masalah serius pada ekosistem terumbu karang. Burke et al., (2002) menyebutkan bahwa El Nino pada tahun tersebut telah menghancurkan sekitar 18% ekosistem terumbu karang di Asia Tenggara. Pemutihan terumbu karang (coral bleaching) telah terjadi di banyak tempat seperti bagian Timur Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok. Di Kepulauan Seribu sekitar 90-95% terumbu karang yang berada di kedalaman 25 m sebagian telah mengalami pemutihan.

Kenaikan permukaan air laut satu meter saja dapat menenggelamkan 405.000 Ha wilayah pesisir dan menenggelamkan 2.000 pulau yang terletak dekat permukaan laut beserta kawasan terumbu karang. Perubahan iklim juga akan meningkatkan temperatur air laut, mengubah pola arus laut, angin, serta pola turun hujan. Air laut yang lebih hangat dapat mencegah perkembangbiakan plankton dan mengurangi ketersediaan makanan ikan. Beberapa spesies ikan kemungkinan akan bermigrasi ke wilayah lain yang memiliki kondisi suhu dan makanan yang lebih baik.

Hal ini tentunya akan berdampak kepada pencapaian tujuan pembangunan pada sektor perikanan. Data Rencana Aksi Kementerian Lingkungan Hidup (2007), menyatakan bahwa sektor kelautan, pesisir, dan perikanan juga merupakan sub sektor yang sangat banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Berdasarkan tim Riset Kedeputian Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek-Kementrian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2009, Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dampak tersebut meliputi kenaikan muka air laut, perubahan suhu permukaan air laut, perubahan pola cuaca dan iklim setempat.

Kondisi-kondisi tersebut memicu pada permasalahan lain seperti meningkatnya erosi pantai, instrusi air laut, penggenangan lahan-lahan produktif dan fasilitas publik, hilangnya ekosistem lahan basah, perubahan pola hujan dan meningkatnya intensitas dan frekuensi badai. Dengan demikian, perubahan iklim yang dikombinasikan dengan berbagai faktor anthropogenic telah dan akan menjadi faktor utama dalam meningkatkan kerusakan pesisir dan pulau-pulau kecil.

Selanjutnya, untuk mengidentifikasi dampak perubahan iklim di sektor perikanan, dapat dilihat dari produksi perikanan di suatu wilayah. Produksi perikanan di Provinsi Jawa Tengah. Pada sektor perikanan laut, produksi cenderung tidak mengalami peningkatan konstan. Jumlah produksi terus meningkat dari 198.569,5 ton (2009) menjadi 251.520,8 ton (2011); namun dari 2011 ke 2012 meningkat jumlah produksi perikanannya. Meskipun peningkatan produksi tidak setinggi jumlahnya dengan tahun-tahun sebelumnya dan kemudian turun pada tahun 2013. Hal ini tidak sama dengan produksi perikanan darat yang meningkat sepanjang tahun.

Peningkatan produksi pada sektor perikanan darat dikarenakan Provinsi Jawa Tengah kaya dengan perairan dalam yang diimbangi dengan upaya pemerintah daerah untuk mengembangkan budidaya ikan, seperti dibuat waduk – waduk besar dan pengembangan perluasan areal lahan usaha budidaya air payau. Namun, peningkatan produksi perikanan darat ini belum bisa dikatakan optimal karena menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, pemanfaatan secara keseluruhan baru mencapai 15%.

Apa Komentar Kamu?