SHARE

ikan

Satunegeri.com — Penolakan ekspor komoditas perikanan Indonesia ke pasar Rusia mengakibatkan hilangnya potensi penerimaan negara hingga 45 juta dollar AS. Parahnya, penolakan ekspor tersebut terancam berlanjut. Hampir setahun belum terlihat rencana dibukanya kembali keran ekspor produk perikan ke Rusia.

“Pemerintah lambat dalam mengantisiapasi penolakan produk perikanan ke Rusia,” kata Ketua Harian Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APII), Ady Surya, di Jakarta, Selasa (13/5).

Menurut Ady, hambatan ekspor yang berlarut- larut menunjukkan kelemahan pemerintah dalam negosiasi. Pemerintah dinilai lamban dalam menangani persoalan hambatan ekspor. ”Pemerintah kurang lihai dalam negosiasi dan mengawal penyelesaian persoalan ekspor,” ujar Ady.

APII telah meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan segera bertindak untuk mengatasi masalah perdagangan ini, melibatkan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri.

“Koordinasi lintas pemerintah yang lemah menyebabkan larangan ekspor perikanan berlarut-larut,” katanya Di sisi lain, pemerintah perlu konsisten dalam membenahi pengawasan mutu produk ekspor perikanan.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan mengemukakan, kehilangan pendapatan negara itu sangat memprihatinkan di tengah potensi pasar perikanan dunia yang terus meningkat.

Surat penolakan sementara produk perikanan asal Indonesia diterbitkan perserikatan kepabeanan yang meliputi Rusia, Belarus, dan Kazakhstan pada 25 Juni 2013 dan berlaku efektif mulai 1 Juli 2013. Penolakan itu disebabkan beberapa persyaratan uji dan keamanan pangan yang diminta Rusia belum dapat dipenuhi Indonesia.

Inspeksi tim Rusia
Secara terpisah, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut Hutagalung mengemukakan, Rusia dijadwalkan melakukan inspeksi pada April 2014. Namun, hingga kini, inspeksi dari tim Rusia tertunda.

Saut mengakui, koordinasi lintas pemerintah untuk penanganan hambatan ekspor belum optimal. Pihaknya telah meminta Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendesak Pemerintah Rusia agar segera inspeksi. Pihaknya berharap persoalan perdagangan itu bisa tuntas paling lambat Juli 2014.

Sejauh ini, pemerintah telah memperbaiki sistem jaminan mutu keamanan pangan yang disyaratkan Rusia. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Rusia.

”Diperlukan kebijakan jalan tengah antarkedua negara. Kami berharap ekspor ke Rusia kembali dibuka seiring dengan pelaksanaan inspeksi oleh tim Rusia,” kata Saut.

Setiap tahun, nilai ekspor perikanan ke Rusia mencapai 45 juta dollar AS. Apabila hambatan perdagangan tersebut berlanjut, kerugian diperkirakan terus bertambah. Sejauh ini, eksportir berupaya mengalihkan ekspor ke Rusia ke negara-negara lain.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

4 × 3 =