SHARE

73properti

1. Backlog perumahan untuk Rakyat Indonesia sudah 15 jutaan lebih, dan kementrian Perumahan (PUPERA) belum punya prestasi untuk menurunkan angka Backlog. Data menunjukkan bahwa Backlog justru semakin meningkat.

Jika kemudian yang diberi Hak Memilik Properti malahan orang Asing..?, menjadi pertanyaan besar.., REI di anggotanya saja tak terbukti mampu membantu menurunkan Backlog kok malah diberi Hadiah bisa jualan u Asing..?, ini keputusan keliru yang saya rasakan sebagai penghinaan bagi Rakyat, Bangsa Negara Indonesia.

2. Bukti Presiden tidak Paham, adalah Dengan memberi Hak Kepemilikan Properti untuk Asing, maka harga semua Properti di berbagai kawasan akan naik signifikan menuju harga setara atau mendekati harga Properti di kawasan Regional Seperti Singapore, Hongkong yg telah Meliberalisasi Propertinya.

Sebagai akibatnya, pembangunan infrastruktur dan perumahan untuk Rakyat akan terhambat oleh harga pembebasan tanah yg melambung.

Beban APBN Dan APBD untul pembangunan akan meningkat luar biasa, Dan ini harus ditanggung Rakyat sbg pembayar pajak dan berakibat juga pada pengurangan subsidi bagi Rakyat..!

3. Jika harga perumahan naik, Backlog perumahan untuk Rakyat akan juga meningkat….., Inflasi sulit dikendalikan, jumlah Rakyat miskin di Indonesia akan meningkat,

SementaRa, kita tahu, uang masuk melalui asing untuk Properti lebih banyak untuk Spekulasi dan cuci uang yang saya prediksi sebagian berasal dari kasus BLBI yang belum tuntas.

Alhasil pemerintah memberi sarana untuk asing di buron BLBI yang Parkir di luar Negri untuk cuci uang di NKRI.
Kebijakan itu saya kategorikan sebagai kongkalingkong Kejahatan Terencana, yang hanya akan menguntungkan Pengembang dan Buron BLBI

Kami akan melawan rencana itu, dan menuntut pemerintah RI fokus pada program u atasi Backlog perumahan untuk Rakyat Indonesia.

Prioritaskan pembangunan untuk Rakyat, bukan malah memperkaya pihak yang sudah sangat kaya.

Jika rencana Liberalisasi Properti diteruskan, kita akan menyaksikan dalam sejarah, Presiden Jokowi membuat Keputusan paling Buruk…. !

Jakarta, 23 juni 2015

Ibnu Tadji
Ketua APERSSI
(Ketua Asosiasi Penghuni Rumah Susun Seluruh Indonesia)

Apa Komentar Kamu?