SHARE

medium_15CPO-produksi

Satunegeri.com – Jika pada tahun lalu porsi ekspor produk hilir mencapai 70%, tapi kini produk hilir mendominasi kinerja ekspor minyak kelapa sawit. Hal itu dikatakan Menteri Perindustrian M.S. Hidayat.

Menurut Hidayat kondisi tersebut menunjukkan ekspor minyak kelapa sawit sekarang lebih bernilai tambah. “Dalam empat tahun itu dibalik, sawit yang masuk ke industri pengolahan itu 70%, sedangkan hulunya 30%,” katanya.

Dari total nilai ekspor produk industri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat rerata ekspor minyak sawit dan produk turunannya berkontribusi sekitar 20%. Sementara untuk ekspor produk olahan sawit tercatat US$20,6 miliar, dan kini baru pada semester I/2014 nilainya sebesar US$11,63 miliar.

Selain pengolahan menjadi minyak dan lemak nabati juga ada yang masuk ke sektor oleochemical. Penanaman modal segar maupun ekspansi bisnis di sektor pengolahan minyak sawit pada 2013 hingga tahun ini berkisar US$2,7 miliar.

Untuk memenuhi penetapan bisnis pengolahan minyak sawit sebagai sektor prioritas, pemerintah memfasilitasi dalam insentif fiskal berupa tax allowance, tax holiday, dan pembebasan bea masuk untuk impor mesin.

Hal tersebut merujuk kepada Peraturan Persiden No.28/2008 dan Peraturan Menteri Perindustrian No. 13/2010. Dasar pertimbangannya adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rohim menjelaskan peningkatan bisnis produk hilir berupa minyak goreng pada umumnya bukan investasi baru. Produk ini biasanya berupa peningkatan utilisasi kapasitas produksi terpasang.

Kemenperin mengklaim BK progresif hulu – hilir mampu menjamin ketersediaan bahan baku minyak sawit bagi industri hilir. Pada sisi lain juga membantu mengamankan pasokan dan harga minyak goreng domestik.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

five × five =