SHARE

image-satunegeri

SatuNegeri.com – Dalam dua tahun terakhir produktivitas sektor perkebunan yang dikelola oleh rakyat mengalami pelambatan. Hal itu dikatakan oleh Ketua Umum Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Fadel Muhammad di Jakarta, Rabu.

Begitu juga pada komoditas kelapa yang 95 persen merupakan perkebunan rakyat, hanya menghasilkan 0,5–1 ton kopra per ha, sementara produktivitas perkebunan sawit rakyat masih relatif rendah, rata-rata hanya 3,5 ton per ha.

Padahal menurutnya, luas perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai 40 persen atau 3,4 juta ha dari total perkebunan kelapa sawit di Tanah Air seluas 8,9 juta ha.

Pelambatan produktivitas perkebunan itu, menurut mantan Gubernur Gorontalo itu, disebabkan tiga hal, yakni iklim investasi di sektor perkebunan dianggap tidak menarik.

Selain itu, kegiatan riset yang tidak memadai karena kurang mendapatkan dukungan pendanaan, sehingga motivasi inovasi untuk membuat alat pertanian dan benih yang berkualitas tidak ada. "Kondisi ini jauh berbeda dengan Brasil dan Malaysia," katanya.

Masalah lainnya, menurut Fadel, adalah minimnya infrastruktur di sentra perkebunan. "Semestinya, 30 persen investasi infrastruktur disediakan oleh Pemerintah," katanya.

Untuk itu, pihaknya merekomendasi resolusi guna mendukung program pembangunan pertanian subsektor perkebunan, seperti re-enjinering, revitalisasi sistem inti plasma, dan peningkatan sarana prasarana pertanian.

Selain itu, Pemerintah harus merekonstruksi kembali hilirasi pertanian. Berbarengan dengan hal itu, perlu reformulasi pasar dalam dan luar negeri, harmonisasi peraturan, dan sinkronisasi sistem agrobisnis dan agroindustri.
 

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

4 × three =