SHARE

image-satunegeri

SatuNegeri.com — Barang impor masih mendominasi pengadaan dalam proyek kelistrikan. Direktur PT PLN Nur Pamudji mengatakan belanja modal PLN mencapai Rp 50 triliun per tahun.''Sayang jika belanja sebesar itu didominasi barangimpor,'' katanya, Senin (20/5).

Sejumlah peralatan listrik impor di antaranya adalah trafo tegangan tinggi 150 kilovolt, trafo tegangan ekstra tinggi 275 kilovolt dan 500 kilovolt, boiler, dan mesin turbin pembangkit.


Sebagian peralatan itu memag diproduksi di Indonesia. Produsen dalam negeri belum memiliki pengalaman dalam pembuatan barang-barang tersebut.Padahal pengadaan barang impor tak memberikan keuntungan ekonomi bagi kepentingan nasional.

Sebab, tak ada penyerapan tenaga kerja lokal dan tak memperkuat kapasitas industri dalam negeri. Karena itu, ia akan mendorong pemakaian komponen dalam negeri untuk proyek kelistrikan di Indonesia.

Selain itu, tender pengadaan peralatan listrik biasanya jatuh ke perusahaan Cina.Mereka menawarkan harga paling murah meski mutunya belum tentu terjamin. Sementara, hanya ada dua perusahaan lokal. Jika bersaing dalam tender bisa menimbulkan persaingan tak sehat.

Pamuji mengatakan, untuk mengatasi hal ini pihaknya mulai menerapkan mekanisme pemesanan terbuka. Penerepan sistem ini dilakukan setelah berkonsultasi dengan Transparansi Internasional Indonesia, konsultan PLN terkait tata kelola perusahaan yang baik dan bebas korupsi.

Dalam pemesanan terbuka itu, PLN memesan barang langsung ke pabrik trafo di dalam negeri. PLN selaku pembeli berhak mengetahui sumber bahan baku seperti baja dan berapa harga belinya dilengkapi bukti pembelian.

Apa Komentar Kamu?

LEAVE A REPLY

two × 1 =