SHARE

87_aksi-mahasiswa-palembang

Mukhlis Said

Presiden BEM ITS 13/14

“Aku pergunakan pengetahuan ekonomi pada masa itu, yang berdasarkan teori Von Bohm Bawerk tentang perbedaan nilai barang yang serupa pada waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Makin jauh jarak antara sekarang dan masa datang, makin rendah nilai barang itu pada masa mendatang. Teori ini sering disebut Gesetz der perspektiven Verkleinerung. Sekalipun pengetahuanku belum banyak tentang ekonomi, aku berusaha sedapat-dapatnya buah tanganku berdasarkan ilmiah” – Untuk Negeriku vol 1, hal 168-169

Pernyataan diatas adalah kutipan pemikiran Hatta dalam trilogi Untuk Negeriku yang mengomentari Sarikat Islam dibawah pimpinan Tjokroaminoto. Kala itu Tjokroaminoto menggerakkan kaum tani Indonesia menuntut sewa tanah yang lebih tinggi untuk diserahkan kepada perusahaan gula di Pulau Jawa.

Istimewanya, itulah tulisan ilmiah Hatta pertama dalam majalah Hindia Poetra. Ketika menuliskan tulisan ilmiahnya itu Hatta tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Erasmus Rotterdam. 91 tahun setelah tulisan itu digoreskan, seakan Hatta ingin mengajarkan pada mahasiswa masa kini tentang pentingnya profesi yang sedang digeluti.

Kondisi Mahasiswa dan Gerakan Mahasiswa Masa Kini

Sudah jamak kita dengar bersama tentang mati surinya pergerakan mahasiswa kontemporer. Masih kuatnya romantisme masa lalu membuat semua orang menggunakan perspektif yang sama dalam membandingkan setiap generasi gerakan mahasiswa.

Kalau saja generasi ’74 sangat diagung-agungkan dengan peristiwa Malarinya, ’98 dengan perjuangan berdarah nan monumental bernama reformasi. Lantas masyarakat akan bertanya apa yang sudah dilakukan oleh mahasiswa pasca reformasi?

Bukankah perjuangan reformasi tidak seharusnya berhenti pasca tergulingnya rezim orde baru? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan terus mengemuka seiring dengan anggapan bahwa kini gerakan mahasiswa telah mati suri.

Memang apabila dibandingkan terdapat perbedaan yang sangat kentara antara masa orde baru dengan pasca reformasi. Dari segi gaya pemerintahan orde barucenderung bersifat totalitarian atau yang sering dikenal dengan istilah ABS (Asal Bapak Senang), sementara saat ini pasca reformasi sangat dominan dengan mengagung-agungkan prinsip demokrasi.

Hal tersebut disesuaikan dengan penerapan pasal 28 dimana setiap warga negara diberikan kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Dengan dibelalakkan oleh fakta tersebut maka mulai banyak bermunculan media baik melalui cetak ataupun online yang berhasil mengendalikan opini publik.

Ditambah dengan bersandingnya antara kekuatan pemilik modal dan media keberpihakan menjadi sangat subjektif sehingga bisa dipastikan menjadi kekuatan tersendiri. Bahkan saat ini pilar demokrasi bukan hanya berasal dari lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, namun bertambah dengan hadirnya media. Di era kontemporer ini barang siapa yang berhasil menguasai wacana publik maka dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Fenomena diatas menjadi salah satu faktor dimana gerakan mahasiswa kontemporer dipandang tidak memiliki daya dobrak sebagaimana sejarah pernah menceritakan. Selain itu kecenderungan opini mahasiswa tidak didasari dengan landasan ilmiah yang kuat. Ujung-ujungnya akan bermunculan kelompok mahasiswa yang menjadi pengkaji dadakan.

Misal rame-rame bahas kenaikan harga BBM maka mereka akan menjadi pengkaji dadakan seputar migas. Ada masalah KPK dan Polri maka sekonyong-konyong akan berbalik arah menjadi pengkaji hukum tata negara dan seterusnya.

Bukannya bermaksud menghalangi maksud baik mahasiswa dalam turut berpartisipasi namun disini penekanannya adalah diperlukannya spesifikasi yang jelas akan diarahkan kemana kajian mahasiswa. Karena tanpa kompetensi yang spesifik maka gerakan mahasiswa secara substansial akan menjadi angin lalu belaka. Parahnya hanya akan dianggap sebelah mata bagi siapapun yang melihatnya.

Di lain sisi gaya hidup mahasiswa masa kini yang cenderung memikirkan dirinya sendiri membuat mereka sulit untuk diajak membahas sesuatu yang mereka anggap jauh. Sering kita mendengar di kampus teknik celetukan sebagai berikut,

“Ngapain sih anak teknik mikir politik ? kalau emang mau kajian mending kita bahas permasalahan yang adahubungannya sama teknik lah”.

Keinginan mahasiswa yang berpikiran seperti itu harus diakomodir menjadi sebuah output produktif yang dapat membentuk pola baru pergerakan mahasiswa.

Mengangkat Isu yang Dekat Dengan Keprofesian

Seperti yang terjadi di Insitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) pada tahun 2014 lalu. Hampir seluruh mahasiswa tahu tentang isu Jembatan Selat Sunda (JSS). Padahal di banyak media isu tersebut belum menjadi hot issue yang jamak akan diperbincangkan.

Pola pergerakan yang digunakan dalam membangun isu tersebut adalah mengawali kajian secara top down di jurusan-jurusan. Terutama jurusan yang ada kaitannya langsung dengan JSS seperti Teknik Perkapalan, Sistem Transportasi Kapal, dan Perencanaan Wilayah Kota.

Karena mahasiswa ITS menuntut suatu yang ideal maka kajian JSS diperluas ruang lingkupnya membahas dampak sekunder misal seputar logistik yang akhirnya juga mengundang rasa penasaran mahasiswa Teknik Industri. Begitu seterusnya yang kemudian semua golongan mahasiswa tertarik membicarakan Jembatan Selat Sunda.

Ada fenomena menarik yang ditemui beberapa pengurus BEM yang seringkali menganggap dirinya sebagai mahasiswa yang paling mencintai dan mengetahui tentang Indonesia. Pada saat itu mereka berusaha menggali data seputar dampak logistik dengan dibangunnya Jembatan Selat Sunda di salah satu laboratorium di jurusan Teknik Industri.

Mereka bertanya pada salah satu asisten lab yang notabene tidak pernah aktif sama sekali di organisasi mahasiswa. Ternyata mereka mendapatkan informasi yang sangat jelas dan mendetail seputar dampak logistik dibangunnya JSS dari mahasiswa tersebut. Sepulang dari laboratorium, sekelompok pengurus BEM tersebut malu karena meskipun berasal dari jurusan yang sama ternyata mahasiswa yang aktivitasnya berkutat di laboratoriumpun lebih memahami seputar permasalahan yang ada di JSS.

Bahkan tak jarang asisten lab tersbut memberikan saran dan solusi bagaimana harusnya sistem logisitik yang diberlakukan. Isu JSS telah menyadarkan sebagian besar mahasiswa ITS bahwa urgensi memahami kompetensi berdasarkan profesi adalah hal mutlak yang harusnya dipahami aktor-aktor pergerakan mahasiswa.

Konsep Lab. Based Education (LBE) juga bisa menjadi referensi substansial bagaimana pola pikir memahami profesi dapat dibentuk. LBE adalah salah satu konsep pemahaman kepada mahasiswa bagaimana laboratorium tidak hanya sekedar menjadi teman hidup dalam mengisi waktu luang namun sudah seharusnya mahasiswa mampu menghidupi dirinya melalui hasil karya didalam laboratorium tersebut.

Melalui hasil riset seringkali bermunculan karya-karya baru mahasiswa yang selaras dengan keprofesiannya. Sebut saja Mobil Listrik, Antasena maupun Solar Boat yang menjadi identitas karya mahasiswa ITS dari berbagai jurusan.

Berkaca pada bangsa Jerman dimana rasa nasionalisme dipupuk bukan dengan memasang bendera Jerman didepan rumah bila hari kemerdekaan tiba melainkan dengan memperbanyak produk-produk teknologi bertuliskan made in germany. Dengan bekal teknologi yang dimiliki suatu saat kita juga berharap akan semakin banyak produk inovatif anak negeri yang mendunia.

Memang tidak serta merta mahasiswa hanya terpaku pada kompetensinya semata. Dunia diciptakan begitu luas dimana didalamnya terdapat ilmu yang apabila digali tidak akan pernah ditemukan batas akhir.

Sebagaimana Hatta mencontohkan pada generasi muda. Sewaktu di Belanda tak jarang ia mengikuti mata kuliah yang sebenarnya tidak selaras dengan bidang studi yang sedang ditempuhnya.

Hatta sangat tertarik dan mengikuti selama setahun kuliah Tata Negara yang diajarkan oleh Profesor Openheim. Padahal spesifikasi ilmunya adalah bidang ekonomi. Barangkali ketertarikannya dengan ilmu yang begitu besar itulah akhirnya ia mampu mengkolaborasikan berbagai pandangan yang akhirnya melahirkan suatu karya besar mensejahterakan bernama koperasi. Tak pelak Hatta pun dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Awas AEC Sudah Dekat

Apalagi per Desember 2015 akan didapati gelombang liberalisasi tenaga kerja di level ASEAN. Tak mengherankan nantinya apabila di bawah pohon rindang akan ada tukang cukur berwarganegara Myanmar atau penjual nasi padang berasal dari Thailand. Begitu guyonannya.

Berdasar dokumen ASEAN yang telah ditandatangani oleh 10 perwakilan negara terdapat suatu kesepakatan dengan tajuk Asean Mutual Recognition Arrangement on Engineering Services.

Konten yang patut diperhatikan dari dokumen tersebut adalah adanya kualifikasi bagi engineer dalam ASEAN Chartered Professional Engineer. Salah satunya adalah lulus sebagai engineer dari kampus yang akreditasinya diakui di tingkat ASEAN. Maka tidak ada kata lain selain bersiap diri sebaik mungkin, ikatkan sekuat-kuatnya sabuk pengaman anda dan mulailah menjadi driver untuk diri sendiri, lingkungan dan kebermanfaatan negeri tercinta.

Garis Bawah

Mencintai profesi butuh waktu yang tidak sedikit, butuh pengorbanan serta jerih payah yang seringkali dibayar dengan harga tak ternilai. Fase menjadi mahasiswa adalah kesempatan terbaik bagi siapapun untuk memperkaya ilmu serta mencintai Indonesia lebih.

Jangan sampai ada penyesalan di akhir tahap masa studi karena kurang intensnya kita memahami ilmu di bangku kuliah. Beroganisasi memang nomor satu tapi akademik tetap yang utama. Sebagaimana salah seorang sobat pernah berkata,

“Selemah-lemahnya iman mahasiswa adalah ia yang mempertentangkan kepentingan akademik dan organisasinya”

Selamat menikmati dan berkreasi !

Apa Komentar Kamu?