SHARE

Satunegeri.com — Hari ini rupiah diprediksi masih dibayangi tekanan pelemahan. Sentimen utama penekan rupiah adalah naiknya indeks dollar AS di pasar global.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali melemah mendekati level 13.500 pada awal perdagangan di pasar spot, Kamis (30/7/2015) pagi. Data Bloomberg menunjukkan, pukul 08.25 WIB, mata uang Garuda ini melorot ke posisi Rp 13.470 per dollar AS dibanding penutupan kemarin pada 13.456.

Posisi tersebut merupakan level terendah sejak krisis 1998. Tercatat pada tanggal 17 Juni 1998, rupiah pernah berada di puncak rekor terlemah pada Rp 16.650 per dollar AS.

Walau belum menaikkan suku bunga acuan, pernyataan Bank Sentral AS, The Federal Reserve, dini hari tadi mencerminkan kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan FOMC Meeting sebelumnya. The Fed lebih puas dengan performa pasar tenaga kerja dan tidak lagi khawatir dengan masalah utang Yunani. Hal itu menaikkan harapan kenaikan suku bunga acuan pada FOMC Meeting berikutnya pada 16-17 September mendatang.

Indeks dollar AS dan imbal hasil US Treasury 10 tahun naik menyusul pernyataan tersebut. Malam nanti ditunggu angka revisi PDB triwulan II-2015 AS yang diperkirakan membaik.

Rupiah menguat hingga kemarin sore setelah dollar AS melemah di Asia menyusul buruknya data AS pada malam sebelumnya.

Akan tetapi, menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia, tekanan pelemahan rupiah berpeluang kembali hari ini akibat indeks dollar AS yang berhasil berbalik menguat dini hari tadi. “Paling tidak hingga September, dengan harapan kenaikan suku bunga The Fed yang meninggi, tekanan pelemahan rupiah diperkirakan masih akan terjaga,” demikian riset Samuel Sekuritas Indonesia, pagi ini.

Apa Komentar Kamu?